Kalau Saya Punya Uang 200 Juta?

December 5th, 2010 by I Gusti Agung Made Wirautama Leave a reply »

Ini sebenarnya ide tulisan yang sudah lama mengendap di otak dan sulit sekali menuangkannnya ke dalam sebuah post. Baiklah, sekarang saya paksakan keluar walaupun mungkin hasil tulisannya kurang maknyus. Bingung dengan judul diatas? Begini..

Di Bali, konon dulunya sebagian besar penduduknya adalah petani (entahlah saya tidak tahu benar atau tidak). Hingga sekarang Bali masih menjadi salah satu tujuan wisata yang terkenal di Indonesia bahkan dunia. Apa sih yang dicari oleh para wisatawan ke Bali? Ada banyak hal, seperti budaya, pelaksanaan upacara, keramahan penduduk (masih ada ndak ya?) dan tentu saja alam yang katanya begitu mempesona.

Nah, salah satu yang membuat alam dan pemandangan yang indah adalah adanya persawahan. Tapi kini, kita semua tahu sudah sekian hektar sawah di Bali berubah menjadi bangunan. Kalau tidak salah istilahnya alih fungsi lahan. Banyak yang mengeluh khususnya di bidang pariwisata, mereka mengatakan kalau lama kelamaan sawah akan habis, pemandangan menjadi tidak indah lagi, lalu ujung-ujungnya wisatawan pun akan berkurang.

Ini mungkin sebuah proses, atau apapun itu. Tapi yang kurang saya suka adalah sikap sinis yang seolah menyalahkan para petani yang menjual sawah. Opini publik sepertinya menyalahkan petani atau mereka para pemilik sawah. Disini saya katakan bahwa saya (orang tua saya) juga seorang petani dan dulunya memiliki sekitar 17 are sawah. Dulunya hasil sawah itu merupakan sumber penghasilan utama keluarga saya. Tapi kini?

JANGAN SALAHKAN PETANI…!

Itu mungkin yang bisa saya katakan. Lagipula jaman sekarang siapa sih yang mau menjadi petani? Coba saja tanya anak-anak TK dan SD, adakah diantara mereka yang mencantumkan cita-cita sebagai petani? Atau adakah orang tua yang menginginkan anaknya suatu saat agar menjadi petani?

Kalau Saya Punya Uang 200 Juta?

Atau biar lebih jelas, saya ambil contoh riil saja. Andaikan saya memiliki uang cash 200 juta saat ini juga. Lalu saya diberikan pilihan apakah uang itu akan saya gunakan untuk membeli 10 are sawah dengan harga per are 20 juta? Tentu saja tidak. Lebih baik uang itu saya gunakan untuk membeli sebuah rumah di perumahan lalu saya kontrakkan. Minimal per bulan uang sekitar 500 ribu – 1 juta saya dapatkan hanya dengan duduk manis.

Kalau dipakai membeli sawah? Ah… Jangan harap mendapatkan hasil yang bagus di jaman seperti ini. Dan ingat peningkatan harga tanah di perumahan kemungkinan jauh lebih cepat dibanding sawah.

Jadi kalau begitu, salahkah petani menjual tanahnya?

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

37 comments

  1. Ngurah Adis says:

    Kalo punya uang 200juta, mau di pake bangun merajan jumah gen… hehe.. salam kenal Bli Made…
    Ngurah Adis´s last blog post ..Submit Blog ke Google Search

  2. Cahya says:

    Saya setuju, tapi tergantung tuntutan dan kecintaan hidup juga. Saya sempat bertemu dengan seseorang yang membeli persawahan di Bali agar dia bisa hidup dari hasil sawah dan kebunnya, sehingga tidak membeli lagi hasil panen dari pasar.

  3. aldy says:

    Bukan hanya di Bali, tetapi didaerah lain hal sama selalu ber-ulang. Menjual tanah pertanian dengan harga tinggi, masih menjadi solusi mendapatkan uang dalam jumlah besar dan cepat.
    Salahkah mereka? tidak ada yang salah, perkembangan pembangunan selalu makan korban :D

  4. Egie Restu says:

    Uangnya banyak banget Bli??? :D dapet dari mana??? korupsi??? hehehe… becanda :D ;)

    Kalau seandainya saya memiliki uang 200jt paling pertama yang saya beli adalah dedicated server hosting.

    tahu kenapa? ya saya kan lebih hobby ke dunia maya jadi dengan modal 30 juta saja saya bisa menjual produk internet termasuk bisa menghasilkan minimal 1 juta/bulan dan kemungkinan mencapai puluhan juta/bulannya/website.

    trus yang 170 juta???

    tentu uang ini akan sengat berguna sekali untuk pengembangan bisnis saya dan untuk uang jaga2 di kemudian hari atau uang daruratlah :D

    gimana bli made? masuk akal ga?

    smoga saja bli Made ga kecewa dengan tanggapan saya…
    Egie Restu´s last blog post ..Video Hot Mirip Nikita Willy

  5. julicavero says:

    waduh..kalo saya ada uang segitu sepertinya sama a…intinya mau beli rumah wlpun harus nambah lg…hehe

  6. Andina says:

    tidak hanya di daerah pariwisata, didaerah yang banyak dengan sekolah menengah maupun perguruan tinggi juga sangat minim dengan persawahan. mungkin dengan membuka kost2an atau usaha yang dibutuhkan oleh pelajar lebih menguntungkan dr pd mempertahankan sawah.

  7. andi sakab says:

    saya setuju kalo “jangan salahkan petani”

    tapi beda lagi jika memang tinggal di daerah pedalaman yang jauh dari keramaian kota. maka umumnya masyarakat akan lebih memilih sawah dari pada yang lainnya
    andi sakab´s last blog post ..203- Notes yang tercecer

  8. PanDe Baik says:

    kabarnya mereka lebih memilih menjual ketimbang bertani lantaran pajak tanah yang tinggi, gag sebanding dengan pendapatan dan biaya kebutuhan hidup.
    Tapi seandainya saja kalo saya punya uang 200 juta, saya bakalan sedekahkan yang 100 juta untuk Fakir Miskin dan 100 juta lagi untuk Yatim Piatu. Trus mengkhayal lagi biar bisa punya 200 milyard. :p
    PanDe Baik´s last blog post ..Jajal BlackBerry App World via BB Torch 9800S

  9. iskandaria says:

    Saya komentari dari sisi investasi uang segitu aja ya. Sebaiknya memang diinvestasikan untuk hal-hal yang nantinya bisa mendatangkan uang secara teratur. Kalo cuma untuk membeli sawah, kayaknya susah juga dan agak lama balik modalnya. Intinya harus jeli melihat peluang.
    iskandaria´s last blog post ..Inilah Dilema Jika Frekuensi Update Blog Terlalu Kencang

  10. Saya rasa ndak ada kok orang yang menyalahkan petani. Apalagi di mata hukum, semua orang berhak mendapatkan manfaat dari tanah miliknya. Jadi, petani pun ndak salah untuk menjual sawahnya.

    Cuma yang disayangkan, kalau sawah itu terjual ke orang asing. Meskipun orang asing ndak boleh beli tanah di Indonesia, tapi banyak pribumi yang mau pasang nama dan pasang badan untuk membantu orang asing itu.

    Akhirnya, segala keuntungan lari ke orang asing. Akhirnya, si mantan pemilik sawah cuma jadi babu orang asing. Sampai kapan kita jadi babu orang asing di rumah sendiri?

    • imadewira says:

      @Agung Pushandaka,
      Kawan,

      Yang menyalahkan secara langsung memang tidak ada, tapi ada yang berupa sindiran kepada orang Bali (petani) yang menjual sawah.

      Terjual ke orang asing? Tentu saja, mana ada orang lokal yang mau membeli sawah (untuk bertani) kecuali untuk dijadikan usaha lain, membuat rumah, kos-kosan atau pun villa.

      Kita memang jadi babu di tanah sendiri, lihat saja tetangga saya, sebagian besar kerja di villa sebelah rumah, padahal tanah itu dulunya milik mereka.

      Entahlah, sampai kapan akan begini,.

      • @imadewira, teman..

        Saya ndak masalah sawah itu terjual trus jadi kost, ruko, atau apalah, selama yang beli orang lokal. Minimal keuntungan masih lari ke pribumi juga.

        Sebenarnya, ada cara yang lebih enak kepada pemilik sawah itu. Jangan jual tanahnya, cukup sewakan saja. Uangnya dapat, tanahnya tetap menjadi hak milik.

        Bahkan, kalau si penyewa tanah membangun villa di tanah itu, setelah masa sewa tanahnya habis, villa pun bisa dimiliki si pemilik tanah, kemudian disewakan kembali. Duit mengalir terus, tanah tetap dimiliki.

        • imadewira says:

          @Agung Pushandaka,
          kawan,

          tentu saja disewakan adalah jalan yang lebih baik daripada dijual kepada “orang luar”, cuma sayangnya mungkin pembeli inginnnya membeli, bukan menyewa. Di samping itu uang yang didapatkan pemilik tanah tentu lebih sedikit.

          • @imadewira, sobat..

            Menyewakan salah satu alternatif saja. Soalnya ada juga beberapa orang yang ndak rela kehilangan tanahnya, apalagi kalau tanah itu adalah tanah warisan, tapi membutuhkan uang untuk beberapa keperluan. :)

            • imadewira says:

              @Agung Pushandaka,
              Menurut saya dijual juga tidak apa-apa asalkan uang hasil penjualan itu diolah dengan baik sehingga bisa menghasilkan lebih banyak lagi.

              Memang ada tanah yang sebaiknya jangan dijual yaitu tanah “laba” pura, sebaiknya diolah (sawah) atau kalau kepepet ya disewakan.

  11. DV says:

    Tulisan ini menarik.. menilai kondisi sosial dari cara yang unik :)

    Mantab, Sob!
    DV´s last blog post ..Botol

  12. waysu says:

    Menurut saya, sebaiknya kita melihat kondisi dan situasi sebelum mengatakan siapa yang salah. Pembangunan diperlukan agar ada pemerataan, tetapi juga berdampak kepada berubahnya kondisi. Perubahan kondisi akan berdampak kepada perubahan pola pikir. Kita semua harus bisa bertahan dan maju, semua tergantung pada situasi dan kondisi…

    • imadewira says:

      @waysu,
      hmmm… ini mungkin memang dampak dari pembangunan. Tapi andaikan saja bertani bisa menghasilkan uang yang sama dengan pekerjaan lainnya, saya rasa masih cukup banyak yang mau bertani.

  13. Foto Unik says:

    Orang Tua saya melarang saya jadi petani…Kata mereka :

    Petani di Negri ini cuma dilirik pemerintahnya saat kampanye Pilkada atau Pilpres.

    Petani di negri ini susah dapat bibit yang bagus, kalaupun dapat bibit gratis, sudah pasti bibinya jelek.

    Petani di negri ini selalu sedih tiap habis panen, karna harga gabah kering selalu turun, dihajar beras import.

    Karna saya tetap ingin jadi petani..maka sekarang inilah saya..Seorang petani internet di ladang Maya.

    Salam Kenal
    Foto Unik´s last blog post ..Arsitek Edan bikin Rumah Murah bentuk Telur- Kereen! Dai Haifei Egg Shape House

  14. ichanx says:

    bukan hanya di bali… lah, dimana2, terutama di deket perkotaan, petaninya kegoda jual tanah semua… banyak yg akhirnya milih jadi TKI ilegal, disiksa deh di arab atau malaysia… sebagai negara agraris, ini ironis :(
    ichanx´s last blog post ..Hari Ini- Sekian Tahun Yang Lalu

  15. ititut4rya says:

    pengalaman pribadi: kalau saya bertanya kepada pasien / kaluarga; “Apa pekerjaannya pak?”
    Pak Tani akan menjawab: “Saya cuma petani pak” dengan kurang percaya diri …
    Tapi banyak juga petani yang kondisi sosial ekonominya mapan …
    Ayooo, departemen pertanian… lakukan yang terbaik untuk petani2 Indonesia…

  16. tips diet says:

    kalau mau mencari siapa yg salah, tentu tdk akn menyelesaikan masalah. semoga dengan semakin banyaknya orang yg peduli terhadap alam, maka ke depannya tidak banyak lagi yg tega mengorbankan tanah persawahan utk dijadikan gedung2 mewah -_-

Leave a Reply

CommentLuv badge