Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (5)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya : Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (4)

Beberapa hari saya tidak masuk kerja, atasan dan teman-teman pun saya kabari bahwa tidak masuk karena istirahat pasca menjalani operasi varikokel. Sebagian besar tentu tidak bisa membayangkan seperti apa operasi itu dan mengapa saya bisa operasi seperti itu. Setelah masuk kantor barulah saya ceritakan semuanya ke teman-teman. Hari pertama kembali masuk kerja, saya memutuskan mengendarai sepeda motor, biasanya saya memang menggunakan sepeda motor. Mobil kami biasanya dipakai oleh istri saya.

Pilihan saya tetap menggunakan sepeda motor adalah agar bisa lebih cepat di perjalanan tanpa banyak kena macet, dan juga agar tidak terlalu nyeri. Tapi ternyata saya salah pilih, naik motor ternyata sangat menyiksa, getaran karena naik motor jauh lebih terasa dan sangat membuat nyeri di bekas luka operasi. Tiba di kantor saya merasa sangat lelah karena menahan sakit sejauh 27 KM. Berjalan pun masih sangat hati-hati dan pelan karena bergetar sedikit saja di perut membuat sakit. Di kantor saya lebih banyak duduk. Perjalanan pulang pun jadi sangat lama karena saya harus sangat pelan-pelan. Hari kedua saya memutuskan untuk pakai mobil saja, dan rasanya jauh lebih nyaman.

Saya lupa, sekitar seminggu saya kemudian kontrol ke dokter urologi untuk mengganti. Bekas luka operasi saya sebelumnya ditutupi semacam plaster anti air dan perban. Tidak ada perlu membuka jaritan. Selesai kontrol, dokter mengatakan semuanya bagus. Saya pun pulang dengan tenang. Tapi keesokan harinya mulai muncul lebam di bagian pinggang saya, baik kiri maupun kanan, seperti ada darah mati di dalam kulit, tapi tidak ada rasa sakit. Saya pikir itu mungkin normal.

Beberapa hari kemudian, bekas luka yang di kanan membengkak dan menonjol, seperti ada cairan darah. Dan ketika di kantor, saya kaget karena ada darah yang keluar, seperti jerawat yang meletus. Saya coba seka dengan tissu tetapi tidak mau berhenti, saya pun pulang ke rumah. Sampai dirumah darah itu tetap tidak mau berhenti, hingga sore itu akhirnya saya memutuskan kembali kontrol ke dokter urologi. Setelah diperiksa oleh dokter, katanya tidak apa-apa, darah itu memang harus keluar. Yang membuat sedikit ngeri adalah dokter langsung memakai sarung tangan dan memeras semua darah itu keluar, rasanya sedikit sakit. Dokter kemudian memberikan obat oles. Setelah lukanya pun membaik dan mulai sembuh, termasuk yang kiri juga.

Satu lagi masalah muncul, penis saya kemudian ikut lebam dan agak membesar dari ukuran aslinya, hehe. Meskipun dugaan saya lebam itu akan hilang setelah beberapa hari, tapi karena posisinya di penis, saya pun khawatir juga. Saya pun sampaikan ke dokter urologi (dokter GWK) tentang permasalahan saya via sms. Oya, dokter ini sangat tanggap dalam merespon saya, mungkin juga pasien lainnya. Oleh dokter saya pun diminta datang ke RS Surya Husada, salah satu tempat prakteknnya. Saya diminta datang pukul 10 malam.

Sekitar pukul 21.30 saya sudah di RS, saya kemudian menghubungi dokter dan menanyakan saya harus kemana, karena hati itu dokter GWK tidak praktek disana, apakah saya harus ke poli atau ke UGD. Sekitar 15 menit saya tidak mendapatkan respon, dokter pun membalas sms saya. Saya diminta ke UGD, katanya beliau baru mendarat di bandara dan segera datang ke RS. Wow, saya sangat salut dan berterima kasih kepada dokter GWK karena pelayanannya melebihi harapan saya.

Saya kemudian mendaftar dan menunggu di UGD, sementara istri saya menunggu diluar. Beberapa perawat pun memeriksa penis saya, saya mengatakan bahwa saya beberapa hari lalu operasi varikokel, dan diminta menunggu di UGD oleh dokter GWK. Salah satu perawat perempuan pun bercerita singkat kepada saya bahwa dulu suaminya juga menjalani operasi varikokel dan sekarang dia sudah memiliki dua anak. Saya pun merasa optimis. Singkat cerita, dokter urologi datang dan memeriksa saya. Tidak sampai satu menit, dokternya bilang tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Oya, ketika kontrol sebelumnya dokter kembali memberikan saya obat (Torrex) dan diminum sekali sehari. Dokter mengatakan seharusnya hasil operasi akan terlihat sekitar 6 bulan kemudian. Sampai disini, semua masalah operasi yang saya jalani sudah selesai. Luka operasi saya berangsur sembuh, dan kalau tidak salah sekitar 1 bulan setelah operasi saya sudah beraktivitas dengan normal termasuk bisa main bulutangkis lagi.

Tapi, ternyata ada satu kejutan besar yang kami alami..

Bersambung ke : Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (6)

 

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

One thought to “Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (5)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *