Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (4)

Tulisan ini merupakan lanjutkan dari tulisan sebelumnya : Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (3)

Setelah semua persiapan operasi siap, dokter urologi pun datang. Walaupun dalam keadaan sadar penuh namun saya tidak bisa melihat proses operasi karena diatas dada/perut saya ditutupi dengan kain, hanya samar-samar melalui pantulan penutup lampu diatas saya. Pembedahan dilakukan di bawah perut kiri dan kanan, posisinya mirip seperti operasi usus buntu, bedanya ini yang dioperasi di dua tempat. Operasi varikokel yang saya jalani ternyata tidak lama, kalau tidak salah hanya sekitar 15 menit.

Luka bekas operasi saya sudah ditutup dan operasi selesai, saya kemudian diantar keluar ruang operasi, disana saya sempat berpapasan dengan dua orang yang ternyata akan menjalani operasi seperti saya. Ternyata saya tidak sendiri. Saya pun diantar kembali ke kamar. Rasanya sangat lega, tidak sakit dan saya bersyukur semua berjalan lancar. Saya bahkan senyum-senyum kepada istri saya yang sepertinya cukup cemas menunggu saya dari tadi. Oya, saya ke RS hanya berdua dengan istri.

Sebenarnya setelah operasi, saya boleh saja pulang. Tapi pihak RS menyarankan saya opname semalam karena takut tidak bisa menahan rasa nyeri. Setelah di kamar, efek bius tentu masih terasa, dari perut ke bawah masih mati rasa. Saya pun menelepon pulang dan mengabari bahwa operasi yang saya jalani berjalan lancar. Sorenya mertua saya datang menengok dan ternyata Nindi juga diajak, saya pun semakin bersemangat. Kakak dan adik saya juga datang serta paman saya.

Sebelum pukul 10 lamam Nindi dan mertua saya sudang pulang. Masih ada adik dan kakak saya, efek bius perlahan-lahan mulai hilang, perut saya khususnya dibagian bekas luka mulai terasa nyeri, sakit. Saya sempat mencoba ke toilet untuk buang air kecil, tentunya dengan dibantu oleh kakak dan adik ipar. Dengan susah payah akhirnya berhasil juga.

Mereka semua pun pulang, tinggal saya dan istri. Sakit dan nyeri yang saya rasakan semakin menjadi. Efek bius sekarang sudah benar-benar hilang. Nyeri yang saya rasakan benar-benar luar biasa! Sebenarnya saya sudah diberi obat penghilang nyeri. Karena tidak kuat, setiap dua jam istri saya menghubungi perawat. Perawat pun menambahkan obat pereda nyeri melalui infus. Dua kali perawat memberikan obat itu. Untuk ketiga kalinya, perawat tidak mau memberikan karena katanya itu sudah dosis maksimal. Perawat juga mengatakan bahwa pasien yang disebelah bahkan tidak ada mengeluh nyeri sama sekali. Saya pun jengah, ya walaupun mungkin ambang batas nyeri seseorang berbeda-beda.

Ternyata saya keliru, yang berat dalam operasi ini bukanlah ketika operasi, tapi pasca operasi. Malam sampai pagi itu benar-benar terasa sangat berat bagi saya, detik per detik saya lalui dengan rasa sakit. Rasanya satu detik berjalan seperti satu hari! Malam sampai pagi itu saya tidak tidur sama sekali. Akhirnya pagi datang juga, tapi nyeri saya tidak berkurang sama sekali.

Sekitar pukul 10.00 pagi perawat mengatakan bahwa saya boleh pulang. Sempat saya berniat untuk opname saja lagi sehari sampai sakitnya reda, saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya menahan kondisi ini dirumah. Tapi ah sudahlah, kami memutuskan pulang karena memang sudah seharusnya kami pulang. Istri saya pun menyelesaikan administrasi dan membayar semua biaya.

Dengan memakai kursi roda, saya diantar ke parkir. Tidak terbayangkan, mau masuk ke mobil rasanya sangat susah, karena bergerak sedikit saja perut saya terasa sakit luar biasa. Tapi mau tidak mau saya paksakan diri. Kami pun berangkat pulang, istri saya yang menyetir. Di perjalanan rasanya juga sangat berat, ada getaran sedikit saja rasanya sakit minta ampun. Akhirnya saya pun tiba dirumah dan langsung beristirahat. Hari itu sampai besoknya saya tetap merasakan sakit, susah diungkapkan dengan kata-kata. Yang paling berat adalah ketika mau merebahkan diri dari posisi duduk, begitu juga sebaliknya.

Keesokan harinya saya sudah mulai terbiasa walaupun sakitnya belum berkurang. Hari kedua, ketiga saya lalui dengan susah payah dirumah. Saya tidak mandi dan hanya dilap. Semua aktivitas tentu saja terganggu dan saya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.

Bersambung ke : Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (5)

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

One thought to “Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (4)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *