Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (3)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya : Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (2)

Tetap dengan rasa pesimis, saya coba ikuti saran dokter dengan minum obat itu, tapi kadang lupa juga. Bulan pertama setelah minum obat itu hasilnya tetap gagal. Saya kemudian menyerah, saya pikir kami pasti gagal, tapi saya tetap minum obat itu dan berhubungan seperti biasa di bulan kedua. Saya sempat curhat ke seorang dokter yang juga blogger tentang kondisi saya, sempat juga saya menanyakan tentang bayi tabung. Dia pun menyarankan kepada saya agar jangan buru-buru dulu, lebih baik telusuri dulu penyebab varikokel yang saya alami, serta solusinya. Dia kemudian menyarankan saya konsultasi ke dokter spesialis urologi, salah satunya dokter GWK.

Setelah disarankan begitu, entah mengapa rasa optimis saya mendadak meningkat, saya merasa senang karena sepertinya menemukan jalan. Apalagi ternyata dokter GWK yang dimaksud adalah dokter yang pernah menangani saya ketika mengalami batu ginjal kemudian dioperasi URS dan ESWL dulu. Sebenarnya sih di bulan kedua setelah minum obat yang diberi oleh dokter kandungan itu seharusnya saya kembali konsul kesana, tapi saya ambil jalan pintas dengan langsung datang ke dokter spesialis urologi yaitu dokter GWK.

Sampai di dokter GWK, saya diperiksa lebih detail dan memang mengalami varikokel, yang kanan grade 3 dan yang kiri grade 2. Dokternya bilang solusinya adalah dioperasi dengan peluang bisa hamil 50-60%. Jika tidak, bisa dengan menggunakan obat tapi peluanya cuma 20%. Saya disuruh pulang untuk berpikir dulu dan diresepkan obat. Ternyata obat yang dikasi sama dengan obat yang diberikan oleh dokter kandungan. Jadi obatnya tidak kami ambil karena stok dirumah juga masih banyak.

Singkat cerita, saya pun memutuskan untuk operasi. Saya hanya beritahu orang-orang terdekat yaitu orang tua saya dan mertua serta kedua saudara saya. Saya lalu menghubungi dokter dan mengatakan bersedia untuk dioperasi. Karena kebetulan dokternya sedang keluar negeri jadi saya harus menunggu minggu depannya. Sehari sebelum rencana operasi, saya kembali menghubungi dokter dan memastikan tentang operasi. Seminggu sebelumnya saya bahkan sudah sempat survey ke RS tempat saya rencana operasi yaitu di RS Dharma Yadnya. Salah satu pertimbangan saya memilih RS itu adalah soal biaya, karena menurut informasi dari dokter urologi yang menangani saya, biaya operasi tidak ditanggung BPJS.

Hari yang ditentukan pun tiba, di kantor saya ijin namun belum menyampaikan bahwa saya sakit (akan operasi) karena takutnya jadi heboh. Nindi saya titipkan di mertua dan sebelumnya saya sudah jelaskan sama Nindi tentang rencana operasi ini, walaupun umurnya belum 6 tahun tapi dia sudah paham, bahkan hampir setiap ke dokter saya selalu mengajaknya dan menjelaskan semuanya.

Pagi sekitar pukul 09.00 kami sudah tiba di rumah sakit. Saya mendaftar dan mengatakan sudah janji dengan dokter urologi (dokter GWK). Saya pun masuk ke UGD, oleh dokter di UGD saya diperiksa dan dipersiapkan semuanya. Sempat saya merasa agak resah karena ternyata tensi saya cukup tinggi, tapi dokter mengatakan tidak terlalu masalah. Sekitar 30 menit menunggu di UGD, saya akhirnya dipindah ke kamar rawat inap sambil menunggu dokter urologi yang akan menangani operasi saya.

Sekitar 1-2 jam menunggu, saya pun diajak ke ruang operasi. Ada rasa cemas membayangkan operasinya seperti apa. Walaupun ini bukan pertama kalinya saya masuk ruang operasi namun tetap saja ada sedikit rasa takut. Dulu ketika SMP saya pernah operasi patah tulang paha, ketika itu pakai bius total. Kemudian tahun 2011 saya pernah operasi URS dan ESWL karena batu ginjal, waktu itu pakai bius setengah badan.

Saya pun masuk ruang operasi, dalam posisi tidur, tangan kiri dan kanan saya diluruskan ke samping serta dipasangkan alat (kayaknya itu untuk memantau denyut nadi). Oya sebelumnya di punggung bawah saya sudah disuntik obat bius, sepertinya ini sama seperti saya operasi URS dan ESWL dulu. Hanya dalam beberapa menit saya mulai tidak bisa menggerakkan kedua kaki saya. Kaki saya sampai ke pinggang bahkan sebagian perut mulai mati rasa, tidak bisa digerakkan. Rasanya aneh ketika disentuh.

Bersambung ke : Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (4)

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

2 thoughts to “Jalan Panjang Untuk Adiknya Nindi (3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *