Helm

Helm adalah pelindung kepala yang wajib digunakan oleh semua orang yang mengendarai sepeda motor dan juga yang dibonceng. Tujuannya jelas untuk melindungi kepala sebagai salah satu organ penting manusia jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.

Nah, walaupun tujuannya jelas dan baik namun pada prakteknya tidak semua orang menggunakan helm di kepala saat mengendarai sepeda motor, tentunya dengan berbagai alasan,  diantaranya :

  • Anak kecil, karena belum memiliki helm
  • Hanya berkendara jarak dekat, misalnya pergi ke warung di depan gang
  • Tidak di daerah wajib helm (tertib lalu lintas)
  • Sedang dalam kondisi khusus, misalnya sedang berpakaian adat seperti di Bali

Apapun alasannya sebenarnya tetap melanggar, tapi mungkin ada alasan yang bisa dimaklumi dan ada yang tidak dan itu juga dengan berbagai macam pertimbangan. Nah seperti contoh terakhir yang terjadi di Bali.

Saat orang Bali khususnya umat Hindu yang pergi ke pura dengan berpakaian adat dan mengendarai motor, sebagian besar biasanya tidak menggunakan helm. Karena biasanya (yang lelaki) menggunakan ikat kepala (udeng), jadinya tidak bisa dipasangkan helm lagi. Tidak hanya yang lelaki, yang perempuan pun ketika menggunakan pakaian adat saat mengendarai sepeda motor biasanya tidak menggunakan helm.

Saya tidak tahu bagaimana sebaiknya, karena kenyataannya menggunakan helm memang perlu (penting) tapi kenyataannya banyak yang tidak menggunakan helm ketika sedang menggunakan pakaian adat (termasuk saya, hehe). Walaupun melewati daerah tertib lalu lintas, polisi yang bertugas biasanya memberikan permakluman dan tidak menilang mereka yang berpakaian adat tapi tanpa helm.

Memang tidak 100% begitu, karena beberapa kali saya juga pernah menjumpai mereka yang berpakaian adat tetap menggunakan helm. Berbeda lagi ketika di Surabaya selama saya kuliah 4 tahun disana. Ketika ke pura saya biasa menggunakan helm, “udeng” baru saya pakai ketika baru tiba di pura.

Saya sendiri sebenarnya maklum dengan hal ini, karena biasanya jarak mereka yang mengendarai sepeda motor dengan menggunakan pakaian adat biasanya relatif dekat. Saya sendiri kalaupun disuruh mengendarai motor dalam jarak yang relatif jauh tanpa menggunakan helm sepertinya saya akan tidak mau.

Bagi saya saat ini, helm bukan hanya sebagai pengaman kepala saat terjadi kecelakaan tapi lebih dari itu. Helm juga berfungsi untuk menghalagi debu yang langsung ke wajah dan mata saya. Seperti saat saya perjalanan dari rumah ke tempat bekerja yang jaraknya 27 KM, pasti sulit bagi saya kalau tidak menggunakan helm.

Ya begitulah, sebenarnya semua kembali kepada kita masing-masing. Menggunakan helm atau tidak, semua pilihan mengandung resiko.

Ini helm KYT Runner 2 yang saya beli beberapa hari yang lalu. Helm full face dengan dual visor, menggantikan helm INK half face sebelumnya. *pamer mode on

Baca Juga:

I Gusti Agung Made Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

7 thoughts on “Helm

  1. Kalau saya sendiri malah lebih suka pakai helm, baik jarak dekat ataupun dengan suasana pakaian adat. Bukan karena hukum, tapi karena kepala tidak asuransi :).

  2. wah, postingan ini sih benernya cuma mau bilang beli helm baru ya.. :)

    Saya sih setuju sm cahya, biar jarak tempuh dekat saya tetap pakai helm, karena jalan depan rumah buat saya tetap jalan umum buat orang lain, jd tetap harus aman terkendali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *