Harga BBM Naik? Ya Sudahlah

Harga BBM sudah jadi dinaikkan ya? Ya mau gimana lagi..

Saya tidak begitu sering membaca berita di portal berita, begitu juga di televisi, sehingga saya tidak terlalu mengikuti info terkini yang sedang diberitakan oleh media mainstream. Kalaupun ada informasinya yang saya ikuti, itu hanya beberapa berita yang di share oleh teman di jejaring sosial. Jadi bisa dikatakan sumber berita dan informasi saya yang utama belakangan ini malah jejaring sosial.

Dan mungkin yang paling ramai diberitakan seminggu terakhir adalah tentang kenaikan harga BBM (bensin). Saya tidak terlalu ngerti persoalan harga BBM, jadi kalau mau jujur saya jadinya tidak bisa menunjukkan sikap apakah setuju atau tidak dengan kenaikan harga tersebut. Apalagi kita baru saja memiliki Presiden baru yang memiliki wewenang untuk memutuskan itu. Saya yakin, pemerintah sudah berpikir berkali-kali dan punya pertimbangan sebelum memutuskan menaikkan harga BBM. Saya sebut pemerintah karena saya juga yakin Presiden tidak sendirian memikirkan masalah harga BBM. Jadi, sekali lagi, posisi saya bukan soal setuju dan tidak setuju.

Dan, setelah beberapa hari harga bensin dinaikkan menjadi Rp. 8.500,- per liter, saya tidak terlalu merasakan dampak apa-apa. Mohon maaf, saya tidak bermaksud sombong atau tidak peduli kepada masyarakat yang mungkin merasakan dampak kenaikan harga BBM, tapi jujur bagi saya pribadi, kenaikan harga bensin menjadi Rp. 8.500,- per liter itu masih dalam tahap wajar dan terjangkau.

Akan tetapi, walaupun saya mengatakan tidak terlalu merasakan dampaknya, mungkin saja nanti lama-kelamaan akan terasa juga. Dan ketika membeli bensin akan terasa makin berat di kantong, satu-satunya solusi bagi saya ya lebih irit dalam menggunakan bensin. Contoh sederhana ya kurangi aktivitas menggunakan kendaraan khususnya yang tidak perlu.

Ada yang bilang, kenaikan harga BBM sebenarnya bukan hanya masalah harga bensinnya, tapi efek sampingnya yaitu kenaikan harga barang khususnya kenaikan harga kebutuhan pokok. Nah kalau yang ini, mungkin solusinya juga sama yaitu belajar ngirit lagi. Dan jika ingin lebih mewah ya harus diiringi dengan kerja keras.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

2 thoughts on “Harga BBM Naik? Ya Sudahlah

  1. sama, saya juga gitu. Bukankah tiap tahun harga BBM naik ya? Biasanya sih disertai dengan demo kenaikan harga BBM, tapi seperti biasa, itu cuma di awal-awal doang, lama-lama ya udah, tetep dibeli juga. Lha ya udah mau gimana lagi, coba?
    Saya yakin pengatur kebijakan sudah memikirkan dan memperhitungkan segala sesuatunya dengan matang sebelum membuat kebijakan.

  2. Kalau mau jujur nih, saya malah setuju subsidi BBM dihapus saja. Berat mungkin awalnya, tapi selama diimbangi dg perbaikan sarana pendidikan dan kesehatan kita, sepertinya ini lebih baik daripada sakit hati melihat mobil mewah dg gagahnya ngisi full tank tapi BBM bersubsidi. Sakitnya tuh di sini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *