Harapan Untuk Gubernur Bali Selanjutnya

January 19th, 2013 by imadewira Leave a reply »
Pemilihan Gubernur Bali Tahun 2013

Pemilihan Gubernur Bali Tahun 2013

Umur saya saat ini adalah 30 tahun dan bulan Mei yang akan datang saya akan berumur 31 tahun. Sampai umur segitu sudah ada beberapa Pemilu yang saya lewati baik itu Pemilu Legislatif ataupun Pemilu Kepala Daerah. Tapi diantara sekian pemilu itu jujur saja saya seperti tidak tahu apa tujuan saya memilih. Saya tidak tahu apa harapan saya terhadap para calon pemimpin yang saya pilih. Ditambah lagi saya tidak mengetahui persis apa yang ditawarkan oleh para calon itu.

Kalau ibarat membeli sebuah barang, saya tidak tahu barang apa yang saya butuhkan. Yang lebih parah lagi, saya tidak tahu apa perbedaan barang A dengan barang B dan juga barang C. Apa keunggulan atau setidaknya apa yang ditawarkan pada barang A sehingga saya bisa memutuskan “membeli” barang A tersebut. Saya hanya ikut-ikutan berdasarkan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi disini misalnya karena orang tua atau pacar menggunakan “produk” A maka saya pun ikut membelinya.

Saya tidak tahu apa yang salah dengan semua itu. Apakah saya yang terlalu katrok sehingga tidak mampu menyimak kampanye dari setiap calon atau pun partai politik untuk mengetahui apa yang mereka tawarkan. Atau mungkin partai politik selama ini yang gagal menyampaikan visi dan misi serta program yang mereka tawarkan ke masyarakat. Atau mungkin partai politik selama ini di tingkat akar rumput masih selalu menggunakan cara lama dalam berkampanye yaitu dengan memasang baliho besar, membagikan uang bantuan yang entah darimana sumbernya tapi berkedok kunjungan sosial dan cara-cara tidak mendidik lainnya.

Masyarakat pun mungkin sebagian masih mau menerima cara-cara seperti itu. Kelompok masyarakat masih saja mau menerima kunjungan dan bantuan uang yang sebenarnya tidak selalu “sehat” untuk mereka. Ya walaupun tidak jarang juga masyarakat yang cerdik, yaitu uang bantuan mereka terima saja dengan senyum dan kebulatan tekad tapi ketika pemilu malah memilih calon dari partai lain. Itu sudah lumrah tapi para calon dalam pemilu masih saja mau menggunakan cara itu.

Kembali ke maksud saya di awal, saya adalah contoh masyarakat awam yang selama ini tidak tahu harus memilih apa ketika pemilu. Karena saya tidak tahu apa yang ditawarkan oleh setiap partai atau pun para calon. Atau sebaliknya, saya tidak memiliki aspirasi atau harapan khusus kepada para calon sehingga tidak tahu mana calon yang bisa memenuhi harapan saya. Saya membayangkan, kalau semua atau sebagian besar masyarakat yang ikut memilih dalam pemilu seperti saya, maka kira-kira seperti apa hasil pemilu nanti.

Nah, sebentar lagi pemilihan Gubernur provinsi Bali akan dihelat. Gubernur Bali saat ini, Mangku Pastika, hampir pasti akan ikut maju lagi sebagai calon gubernur. Kabar yang beredar, wakil gubernur saat ini, Puspayoga malah akan nyalon sebagai Gubernur dan berhadapan dengan pasangannya saat ini. Sejauh ini, baru dua nama itu saja yang beredar di media massa. Saya tidak tahu apakah ada calon lain yang lebih segar yang mau maju sebagai calon Gubernur.

Dan saya sepertinya lebih tertarik dengan pemilu yang satu ini karena saya (sudah) memiliki harapan khusus terhadap Gubernur yang akan datang. Jadi saya bisa memilih calon mana yang kira-kira bisa mendekati harapan saya. Walaupun saya tidak tahu banyak tentang dunia politik, tapi setidaknya sekarang saya merasa membutuhkan sebuah “barang” yang akan saya beli. Walaupun kata orang saat ini di pasaran tidak ada barang yang sempurna.

Lalu, apa harapan saya untuk Gubernur Bali selanjutnya. Harapan ini tentunya harapan khusus yang realistis, bukan hanya slogan atau sebuah kata seperti Gubernur yang “jujur”, “adil”, “tegas” dan sejuta kata manis lainnya. Harapan saya diantaranya yaitu masalah transportasi publik.

Macet adalah salah satu kata yang sudah akrab untuk penduduk Bali saat ini, khususnya yang di Bali Selatan. Macet yang dulunya hanya bisa kita lihat di televisi kini sudah terjadi di depan mata. Pemerintah memang seperti sudah bergerak dengan melakukan beberapa hal seperti Bus Sarbagita, pembangunan underpass di Simpang Dewa Ruci dan jalan tol di atas rawa. Tapi menurut saya hal itu belum akan memecahkan masalah. Dari apa yang saya pikirkan secara logika sederhana saya, yang dibutuhkan Bali saat ini adalah sebuah transportasi publik yang baik. Baik dalam artian nyaman, aman, tepat waktu, terintegrasi dan lain-lain.

Memang saat ini sudah ada Sarbagita, tapi realisasinya menurut saya sangat lambat. Saat ini hanya baru dua trayek yang dibuka. Selain itu, banyak yang sepertinya kurang dipersiapkan dengan matang, seperti ukuran bus, masalah halte, dan lain-lain. Lagipula, transportasi publik yang bagus tidak harus Sarbagita. Siapa tahu Gubernur Bali yang akan datang memiliki ide dan solusi yang lebih brilian dan patut dicoba.

Mengapa saya fokus pada masalah transportasi publik, karena itulah yang nyata saya butuhkan saat ini. Saya sudah capek berkendara dari rumah ke kantor dengan jarak 27 KM tapi kadang membutuhkan waktu sampai 2 jam. Bahkan pernah saya menghabiskan waktu 3 jam di jalan, padahal kalau jalanan lancar hanya butuh waktu 45 menit. Jadi harapan saya Gubernur Bali yang akan datang bisa memperhatikan masalah macet ini dan memberikan solusi yang bagus.

Selain masalah transportasi publik, tentu saya memiliki harapan lain. Seperti masalah hutan mangrove, saya berharap Gubernur Bali yang akan datang bisa membuat kebijakan yang lebih pro rakyat dan peduli lingkungan. Saya juga berharap Gubernur Bali yang akan datang bisa lebih memperhatikan nasib Bali ke depan. Bagaimana Bali Selatan menjadi penuh sesak karena dampak pariwisata. Pariwisata memang menjadi tulang punggung khususnya di Bali Selatan, tapi jangan sampai merugikan generasi mendatang.

Masih banyak harapan lainnya, tapi saat ini yang saya fokuskan adalah masalah transportasi publik itu. Masalah yang lainnya silahkan orang lain yang menyampaikan. Saya berpikir, seandainya nanti semua orang mampu mengungkapkan apa aspirasi mereka dan ditampung oleh calon pemimpin Bali, mungkin ke depan hasil pemilu bisa lebih baik.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

9 comments

  1. gibic says:

    Bali, macetnya makin parah. bakal jadi the next jakarta :(

    oiya, jaman saya smp dulu (akhir 90-an) jalan kartika plaza, tuban, kalau hujan, banjir sedengkul. sekarang gmn y?
    gibic´s last blog post ..Hujan yang Rumit – Catatan Banjir Plaza UOB, Kamis 17 Januari 2013

  2. Jefry says:

    Siapapun yang menang menjadi gubernur Bali nantinya semoga bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dan bisa memajukan Bali jadi lebih baik dari sebelumnya
    Jefry´s last blog post ..Cara Cek dan Pembayaran Tagihan Listrik PLN Secara Online

  3. mari berbagi says:

    kal nyalon dadi gubernur ne?
    mari berbagi´s last blog post ..Belajar PHP : Penggunaan Pernyataan IF Pada Pemrograman PHP

  4. politik tikus says:

    arahhh……siapaun jadi gubernur, kalo dah politik ujung2nya duit. masak hutan mangrove disewakan? jelas jelas abrasi pantai makin parah, krisis air bersih di badung. apa pemimpin gak pernah baca koran yah? itukah yang namanya ngajegang Bali??? saya jamin siapapun jadi pemimpin bali gak akan pernah bisa NGAJEGANG BALI!!!! MATANYA HIJAU KALO LIAT DUIT!!!!!

    • imadewira says:

      @politik tikus : lalu sebaiknya bagaimana? apakah harus golput misalnya? Menurut saya mari kita pilih yang terbaik diantara yang ada. Daripada tidak memilih sama sekali. Setidaknya setelah mereka terpilih, kita bisa ikut mengawasi dan protes kalau tidak sesuai dengan janji mereka.

Leave a Reply

CommentLuv badge