Gowes

October 26th, 2013 by I Gusti Agung Made Wirautama Leave a reply »

polygon-gowes-pantai-mengening-bali

Saya punya hobi baru, gowes alias bersepeda. Tepatnya hari Minggu tanggal 7 Juli 2013, sebuah sepeda yang saya idamkan akhirnya tiba dirumah setelah saya pesan sehari sebelumnya. Memiliki sebuah sepeda memang sudah menjadi impian saya sejak tahun lalu. Saya ingin bersepeda secara rutin untuk menjaga kesehatan tubuh dan pikiran, selain selama ini saya rutin bermain bulutangkis.

Ide membeli sepeda sebenarnya sudah ada sejak lama dan semakin menggebu setelah seorang paman saya membeli sepeda tahun lalu. Tapi saya harus menunggu hampir setahun sembari memantapkan hati untuk meminang sebuah sepeda. Maklum saja, harga sebuah sepeda impian saya bukanlah murah bagi kantong saya. Maka dari itu saya tidak ingin setelah memiliki sepeda kemudian saya tidak konsisten menggunakannya dan lalu menyesal.

Sambil memantapkan hati, saya juga menunggu ada rejeki lebih sebagai modal untuk membeli sepeda, karena bagaimanapun sepeda ini bisa dikatakan merupakan kebutuhan tersier bagi saya. Ketika rejeki sudah ada, langkah selanjutnya adalah menentukan budget, saya memutuskan menyediakan dana maksimal 4 juta untuk sepeda impian saya. Tidak lupa saya menyempatkan diri browsing dulu mencari informasi tentang merk dan tipe sepeda yang sesuai dengan kebutuhan saya dan tentunya sesuai dengan ukuran kantong.

Dan akhirnya saya berjodoh dengan Polygon Xtrada 4.0. Sepeda yang saya beli ini termasuk kategori sepeda gunung dengan suspensi di bagian depan saja. Saya memilih tipe ini karena memang berencana menggunakannya di jalan raya saja, mungkin sesekali di jalan yang tidak mulus. Kalau tipe lain yang dilengkapi suspensi belakang, konon ketika digunakan di jalan raya akan terasa lebih berat ketika dikayuh.

Polygon Xtrada 4.0 memiliki 9 pilihan gir belakang dan 3 gir depan. Konon, harga sebuah sepeda biasanya juga tergantung dari berapa jumlah gir ini. Untuk pengereman, Polygon Xtrada 4.0 sudah menggunakan rem cakram depan dan belakang, dengan tipe hidrolik yaitu tidak menggunakan kawat seling pada remnya tapi menggunakan cairan pelumas layaknya rem cakram sepeda motor. **harap maklum kalau saya menggunakan bahasa awam, mohon koreksi kalau salah.

Dengan spesifikasi seperti itu, saya menebusnya dengan harga 3,6 juta rupiah. Tetapi saya perlu menambah 200 ribu rupiah lagi untuk mengganti ban menjadi ban jalan raya karena ban standarnya adalah ban offroad, sehingga menjadi lebih ringan dan cocok untuk di jalan raya. Juga menambah sekitar 100 ribu lagi untuk lampu depan dan belakang. Lampu ini sangat penting karena saya tidak jarang bersepeda di pagi hari ketika masih gelap.

Di hari ketika sepeda saya dikirim ke rumah, kakak saya pun akhirnya ikut membeli sepeda pada hari itu juga. Dia memilih merk Polygon tapi tipe yang lain yaitu Polygon Premier 4.0. Beberapa waktu kemudian seorang sepupu saya membeli Polygon Xtrada 3.0. Dan ditambah lagi dua orang kawan yang juga meminang Xtrada 3.0. Makin banyaklah yang terjangkit virus gowes.

Sejak saat itu minimal seminggu sekali saya bersepeda bersama yang lainnya. Rute saya bersepeda paling sering ke Tanah Lot yang jaraknya sekitar 12 KM dari rumah. Jalannya banyak naik turun tapi tidak terlalu masalah bagi kami. Jarak 12 KM rasanya cukup pas, tidak terlalu jauh dan tidak dekat juga. Tanah Lot dan sekitarnya menjadi favorit karena biasanya kami bersepeda di hari Minggu pagi dan rute menuju Tanah Lot masih cukup sepi sehingga kami bisa lebih nyaman bersepeda.

Selain ke Tanah Lot, beberapa rute lain yang biasanya kami tempuh adalah lapangan Lumintang, PusPem Badung, bundaran Tuban (masuk jalan tol ketika dulu belum dibuka untuk kendaraan bermotor) dan lainnya, semua jaraknya kurang lebih sekitar 10 Km dari rumah. Jadi kami berangkat pukul 05.00 dan sekitar pukul 07.00 sudah tiba dirumah, itu dengan kecepatan yang santai. Tapi kalau waktu terasa mepet, kami mencari jarak yang lebih dekat, misalnya ke pantai Seseh atau pantai Nyanyi yang masih searah dengan Tanah Lot.

Sebenarnya ada rute yang lebih jauh yang ingin saya coba, ke Sangeh misalnya. Jaraknya sekitar dua kali lipat ke Tanah Lot tetapi jalannya tidak banyak naik turun. Mengingat jaraknya yang lebih jauh, sepertinya kami butuh persiapan fisik dan yang terpenting waktu. Tapi tak apalah, bagi saya yang terpenting bukan berapa jauh jarak bersepeda tapi seberapa sering. Ya mudah-mudahan saja saya bisa terus bersepeda karena ternyata selain menyehatkan badan, bersepeda juga menyehatkan pikiran.

 

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

Leave a Reply

CommentLuv badge