Genk Motor Semakin Meresahkan, Salah Siapa?

September 23rd, 2012 by imadewira Leave a reply »

Ilustrasi diambil dari Google

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah berita yang membuat perasaan sedikit resah tentang perilaku anak muda jaman sekarang. Berikut ini linknya :

Di Bali khususnya di daerah Bali Selatan yang saya lihat memang berkembang tren yang kurang baik untuk generasi muda yaitu tren genk motor. Dari namanya saja sudah lebih banyak membawa kesan negatif dibanding positif. Mohon maaf saya bukan bermaksud men-generalisir karena mungkin tidak semua anggota genk motor itu jelek. Tapi apa yang saya lihat di jalan mencerminkan hal seperti itu, yaitu kesan negatif.

Yang paling terlihat biasanya ketika hari raya di Bali seperti Galungan atau hari libur seperti Tahun Baru. Genk motor ini akan berkonvoi di jalanan khususnya jalan menuju obyek wisata seperti Bedugul. Mereka berkonvoi dengan cara yang sangat tidak simpatik. Sebagian besar menggunakan sepeda motor dengan knalpot yang suaranya sangat keras, knalpot bronk istilahnya kalau tidak salah. Bukan salah knalpotnya, tapi diikuti dengan cara memutar gas yang membuat telinga tidak nyaman.

Selain itu jalan menuju obyek wisata tersebut sengaja diperlambat oleh genk motor yang berkonvoi tersebut, entah untuk mencari perhatian pengguna jalan lain atau bagaimana. Mereka seperti sengaja membuat kemacetan dengan menghabiskan ruas jalan dan berkonvoi dengan kecepatan yang lambat. Pengendara mobil pasti susah untuk mendahului. Yang lebih menyedihkan, ada beberapa sepeda motor yang menyalahi aturan seperti tanpa plat nomor kendaraan, tanpa spion, knalpot bronk, bahkan ada yang tidak memakai helm.

Lalu bagaimana dengan petugas polisi? Entahlah, yang saya lihat polisi hanya bisa diam melihat situasi seperti itu. Saya lihat polisi hanya mengatur lalu lintas tanpa berani menegur atau menilang anggota genk motor yang jelas menyalahi aturan tersebut. Persis seperti ketika oknum peserta lomba layang-layang yang mengintimidasi pengguna jalan yang pernah saya tulis sebelumnya.

Yang membuat saya khawatir, perilaku anggota genk motor dari tahun ke tahun seperti semakin menjadi-jadi. Beberapa tahun lalu sepertinya jumlahnya tidak sebanyak saat ini. Dan terakhir, seperti berita diatas, perilaku genk motor itu sudah memasuki kategori kriminal. Semakin parah saja. Tentu tidak semua generasi muda di Bali seperti itu. Tapi tren negatif ini harus segera dihentikan sebelum menjadi-jadi dan merugikan semua orang.

Lalu kalau sudah seperti ini, siapa yang salah? Memang tidak baik mencari siapa yang salah. Semua pihak harus membuka mata terhadap perkembangan negatif genk motor ini. Mulai dari keluarga masing-masing, lingkungan dan tentunya lembaga pendidikan serta aparat penegak hukum.

Dalam jangka pendek, saya sangat berharap aparat penegak hukum seperti polisi bisa dan berani menindak tegas perilaku genk motor yang semakin meresahkan itu. Karena sekali polisi memble dan memberikan kesempatan, maka genk motor akan merasa semakin hebat dan merasa tidak ada yang berani menindak mereka. Jadi, setidaknya polisi berani menilang bagi siapa saja pelanggar lalu lintas, termasuk genk motor, tidak peduli berapa jumlahnya. Bukan berarti karena mereka berkonvoi dalam jumlah besar maka mereka boleh melanggar.

Tentu tidak cukup hanya dengan ketegasan polisi saja. Peran serta keluarga sangat berperan, para orang tua sangat diharapkan mendidik dan mengarahkan anaknya dengan benar, entah bagaimana caranya. Jangan sampai malah ada orang tua yang memberikan contoh yang tidak baik kepada anak-anak mereka. Selain itu, saya berpikiran kemungkinan para abg itu kurang perhatian di keluarganya sehingga bisa bebas berbuat semaunya.

Selanjutnya, lembaga pendidikan juga seharusnya bisa berbuat sesuatu untuk menekan tindakan tidak baik seperti itu. Sepertinya pendidikan budi pekerti perlu ditingkatkan lagi. Para pendidik tidak cukup pintar secara akademik, tapi juga harus mampu memberi inspirasi bagi murid-muridnya. Bagaimana caranya agar para pendidik (guru) bisa mengambil simpati para murid dan memberikan contoh yang baik. Generasi muda yang masih abg itu masih labil, kalau para guru bisa mengambil simpati dan mendoktrin mereka dengan hal-hal positif, saya yakin hasilnya bisa lebih baik. Pihak sekolah juga harus berperan aktif dengan selalu memperhatikan perkembangan muridnya. Kalau bisa diperbanyak kegiatan non akademik yang memiliki nilai-nilai positif seperti olahraga, kesenian dan lainnya.

Karena, menurut saya anggota genk motor yang cenderung meresahkan itu hanyalah anak muda yang tidak tahu bagaimana menyalurkan energi mereka yang meluap-luap. Anak muda punya banyak energi, punya rasa ingin tahu yang besar, ingin melakukan hal-hal yang cenderung menantang. Mereka ingin dianggap dewasa dan bukan anak-anak lagi. Disinilah masa labil mereka dan jika salah mengambil jalan maka semua akan dirugikan, keluarga dan juga masyarakat. Maka dari itu, semua pihak harus ikut bertanggung jawab mulai dari keluarga, lingkungan, pendidikan dan pemerintah.

Dan kalau boleh berpesan untuk anggota genk motor, ayolah lakukan sesuatu yang positif. Masa muda kalian masih panjang, banyak hal yang bisa dilakukan. Berorganisasi seperti itu tidak salah, malahan bagus. Tapi pikirkan dan hormati juga orang lain seperti kalian ingin dihormati juga sebagai anak muda. Coba bayangkan kalau orang tua kalian sendiri yang diperlakukan tidak simpatik di jalanan, tentu kalian tidak menginginkan hal itu.

Silahkan berorganisasi melalui sesama biker, lakukan sesuatu yang positif. Mengumpulkan sedikit “jatah bensin” lalu disumbangkan ke panti asuhan misalnya? Akan sangat terpuji. Bahkan kalian pasti bisa lebih simpatik daripada organisasi motor lain yang “lebih besar” itu, hebat bukan?

Sepertinya tulisan ini sudah semakin mirip ceramah. Saya juga pernah muda, walaupun mungkin tidak pernah melakukan sesuatu yang hebat, tapi setidaknya saya selalu berusaha menghormati pengguna jalan lain. Jadi kalau tulisan ini menyinggung siapa saja, saya mohon maaf karena tidak bermaksud begitu. Saya hanya ingin jalanan yang ada di Bali dan sudah semakin macet ini tidak diperparah lagi dengan pengguna jalan yang seenaknya sendiri.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

14 comments

  1. Zizy Damanik says:

    Genk motor dari dulu memang sudah ada sih ya, tapi beberap tahun belakangan ini memang semakin liar dan meresahkan. Anak muda, bawaannya begitu, ingin bebas berekspresi. kalau tak diarahkan susah juga.

  2. memang genk motor meresahkan.. tapi tidak bisa dihindari lah. namanya anak muda tuh, hanya saja kadang kadang kalau sudah berbuat kekerasan sudah sebel saya.. kalau ngebut ngebut memang susah mau dilarangnya..

    dimana mana genk motor selalu ada…

  3. PanDe Baik says:

    *tumben tulisannya panjang Wir ? :p *pasti mangkel berat :))
    PanDe Baik´s last blog post ..AntiVirus pada PC/NoteBook, Perlu atau Mutlak ?

  4. uni says:

    wah susah klo mau nyari salah siapanya… :D
    mulai dari diri sendiri aja dulu, saya selalu berusaha untuk tidak mengganggu pengguna jalan yg lain saat berkendara ^^

  5. arikaka says:

    iya ya kalo bisa melakukan kegiatan sosial misalnya dengan membawa nama genk motor seenggaknya bisa membuat orang memandang genk motor dari sudut pandang yang baru
    arikaka´s last blog post ..Jadwal Pertandingan AC Milan musim 2012/2013

  6. BPKB/STNK motornya masih atas nama orang tuanya, bensin masih dibeliin, malah dipakai untuk gaya2an dan bikin onar di jalan.

    Giliran ditangkap polisi, tutup muka, nangis2 mohon ampun. Beraninya cuma rame2. Mental tempe.

    Tapi emg ndak semua gank motor seperti itu. Ada juga yang sering melakukan aksi sosial. Saya pernah lihat di Jogja.
    Agung Pushandaka´s last blog post ..Film Ndak Pernah Bohong

  7. a! says:

    nafsu balapan itu serupa nafsu makan atau berahi. jadi ya harus disalurkan. bahaya kalau hanya dipendam. apalagi utk anak2 remaja yg lagi panas2nya.

    maka, sediakanlah tempat bagi para remaja yg sedang bergairah ini. biar nafsu mereka tersalurkan. bukan hanya dg melarang dan melarang. kalau sudah disediakan dan mereka masih suka balapan liar di sembarang tempat, lemparin saja. biar pada kabur. ;))
    a!´s last blog post ..Karena ODHA Tak Sekadar Angka

    • imadewira says:

      @a! : Menurut saya, nafsu yang mereka miliki tidak harus disalurkan dalam bentuk balapan, masih banyak kegiatan lainnya yang mestinya bisa dijadikan media untuk menyalurkan “nafus” atau energi mereka. Misalnya kesenian, olahraga dan lainnya. Kalaupun masih senang berorganisasi dalam komunitas pecinta motor, setidaknya jangan sampai mengganggu orang lain.

Leave a Reply

CommentLuv badge