Dosen Korupsi Waktu?

Berhubung peringatan hari Anti Korupsi sedunia belum lewat jauh, kali ini kita bicara lagi tentang korupsi. Tapi saya tidak akan ikut-ikutan menyalak untuk menghujat para koruptor yang ndak jelas siapa yang dimaksud. Dan saya juga tidak akan ikut berdemo apalagi sampai berbuat anarkis dan merusak fasilitas umum. Dan bahkan mungkin merusak dan menghancurkan barang milik rakyat yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan korupsi.

Kali ini saya mencoba introspeksi diri saja. Melihat diri sendiri, sudahkah saya bersih dari korupsi? Pernahkah saya korupsi hingga merugikan negara atau merugikan orang lain? Dalam hal uang, jelas saja saya tidak pernah korupsi, apa yang mau dikorupsi? Pekerjaan saya adalah seorang dosen, dan sejak bulan April lalu saya menjadi dosen tetap (CPNS) di sebuah kampus plat merah.

Satu-satunya korupsi yang pernah saya lakukan adalah korupsi waktu, saya akui itu. Sehebat apapun saya, tidak mungkin saya benar-benar sempurna dalam mengajar. Minimal satu atau dua menit sebelum jam berakhir, pasti saja saya pernah mendahului selesai mengajar. Umumnya mahasiswa pun senang, tapi saya tahu ada satu dua mahasiswa yang kritis berkata dalam hati, “dosen ini curang, korupsi waktu”.

Okelah, saya akui itu. Tapi cobalah sedikit bijaksana, dosen mana yang tidak pernah seperti itu? Okelah saya mungkin korupsi semenit dua menit waktu. Tapi apakah ada yang membayar saya ketika “mengajar” di luar jam kuliah?

Saya bukan sok idealis, tapi saya selalu berusaha untuk memberi tugas kepada mahasiswa. Umumnya tugas itu akan saya minta untuk dikirim via email, sedikit memaksa mahasiswa untuk membiasakan diri memanfaatkan teknologi yang sudah ada. Dan saya pun akan memeriksa semua tugas-tugas serta berusaha memberikan tanggapan apakah sudah benar atau tidak. Saya juga membuat sebuah website (blog) yang khusus berisi semua materi perkuliahan serta contoh soal dan jawaban. Jadi, semua usaha ini saya anggap sebagai kompensasi atas korupsi beberapa menit itu.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

40 thoughts to “Dosen Korupsi Waktu?”

  1. haha.. aku jadi inget waktu aku sedang ngajar, ada juga siswa pernah lontarin statement kayak gitu. tapi aku segera lontarin balik untuk menjawab pertanyaan dia tentang masalah korupsi ini.

  2. Siapa sih yang ga pernah KORUPSI di dunia ini?

    munafik kalau ngaku ga pernah KORUPSI seumur hidup…saya aja korupsi duit pernah walau tak banyak…bilang kalau harganya 10ribu pahal hargannya 8ribu…itu bukannya KORUPSI namanya…

    ntar nulis juga ah…

  3. Ceritanya ini sekedar curhat biar tidak ada rasa sesal dan salah di hati setelah “mengkorupsi” waktu dan di kompensasi dengan sibuk ngeblog serta online yang ujujng2 nya demi tugas ngajar yang terbelangkelai. :lol:

  4. Bagaimana kalau para koruptor negara ini juga berkata bahwa ada kompensasi yang diberikan dari hasil korupsinya, misal untuk membuka lapangan kerja, membangun sekolah atau bentuk-bentuk kompensasi lain yang berguna untuk masyarakat/

  5. mestinya sangat gampang buat rakyat mencegah korupsi, jangan pernah menerima sumbangan dari kontestan pemilu biar mereka tidak mengeluarkan uang untuk kampanye. lihat saja di negara maju, rakyatlah yg nyumbang untuk kontestan unggulannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *