Cara Bijak Menanggapi Konten SARA di Facebook

Beberapa hari belakangan ini hal-hal yang berbau SARA (Suku, Ras, Agama, Adat Istiadat) kembali terjadi di Facebook. Sebuah grup yang konon mengajak orang untuk melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran salah satu agama besar di dunia. Sebelumnya mohon maaf saya bukan bermaksud membela pihak manapun karena saya tahu hal seperti ini sangat sensitif.

Untuk ke sekian kalinya masalah pelecehan dan hal-hal yang menyinggung SARA terjadi. Di sinilah sikap bijaksana kita diperlukan, jangan selalu menyalahkan Facebook sebagai penyedia media jejaring sosial. Saya setuju bahwa teknologi itu bagaikan pisau bermata dua, bisa bermanfaat atau malah melukai penggunanya.

Begitu pula di Facebook, mulai hal yang hanya bersifat lokal, nasional bahkan internasional terjadi. Sebutlah kasus seorang anggota Polisi dengan statusnya yang membuat kecewa masyarakat. Ada juga kasus Ibnu yang menyinggung perasaan umat Hindu di Bali dan masih banyak lagi. Bukan hanya status, ada juga grup yang kontroversial seperti grup yang saya sebutkan di awal tadi, anda tentu tahu grup mana yang saya maksud.

Yang ingin saya tekankan adalah kita jangan hanya bisa menyalahkan Facebook. Apalagi kalau pemerintah sampai memutuskan akses terhadap situs Facebook (saya cukup yakin tidak terjadi), jangan sampai terjadi deh. Masih ada banyak cara yang bisa kita lakukan diantaranya :

  1. Cuek dan abaikan saja status, grup atau hal lain yang tidak kita sukai.
  2. Buat status tandingan, grup tandingan (tentunya dengan tetap sopan dan elegan).

Selain dengan dua cara diatas, satu hal lain yang bisa kita lakukan adalah dengan melaporkan kepada penyelenggara Facebook (di situs lain juga biasanya tersedia cara ini). Untuk lebih jelas bagaimana cara melaporkan konten di Facebook yang tidak kita sukai, atau yang menurut kita melanggar aturan atau menyinggung perasaan kelompok tertentu, silahkan simak artikel berikut ini :

Tak Setuju Gambar Nabi di Facebook? Lapor Yuk!

Bagaimana, lebih asik kan? Daripada ribut ndak karuan..

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

33 thoughts on “Cara Bijak Menanggapi Konten SARA di Facebook

  1. Terkadang ada juga rasa penasaran (naluri seorang BLoGGer ?) pada ‘apa yang terjadi?’
    Rasa penasaran itu pula yang kemudian memancing ingin tahu apa penyebab, sejauh mana tindakannya, bagaimana efeknya jika diteruskan dan bagaimana caranya ditangani.
    Namun pada intinya ternyata ya sama saja. Para pelaku adalah orang”yang baru di dunia maya (termasuk FB). yang barangkali blom mengetahui betapa kuatnya pengaruh dunia maya tersebut.
    .-= PanDe Baik´s last blog ..Menjaga ke-Stabil-an Koneksi dengan Connection Keeper =-.

    1. @PanDe Baik, dan bukannya mem-blow up atau membesar-besarkan, namun apa yang saya lakukan kemarin hanyalah sebuah cara untuk mengerem kondisi dimana biasanya semua akan mulai tidak terkendali. mulai saling kecam saling caci maki dan apa yang seharusnya dilakukan malahan kabur… Berhenti mengeluh di FaceBook merupakan satu hal yang tepat. :)
      .-= PanDe Baik´s last blog ..Menjaga ke-Stabil-an Koneksi dengan Connection Keeper =-.

  2. SARA itu bukan Suku, Ras, Agama dan Antar-Golongan ya pak?

    Kalau saya pribadi sih, males banget mengurusi konten yang begituan. Sudah ndak jamannya lagi, kita diadu-domba dengan hal-hal semacam itu.

    1. @DV,
      hehe, ndak kok.. cuma berdoa saja semoga Indonesia ndak ikut-ikutan blokir Facebook gara-gara grup ndak jelas itu, mudah-mudahan Indonesia bisa lebih bisa meresponnya

  3. kalau saya memilih cara pertama (cuekin)
    kemudian laporkan ke pak HANSIP :D

    kalau cara ke-2, rasanya malah akan memperkeruh suasana, dan lagi yang bikin account seperti itu kan cuma org yang memiliki selera rendah (lebih rendah dari selera binatang)

    selamat berlibut mas
    .-= abu ghalib´s last blog ..Kopdar Tengah Malam =-.

  4. Memang setiap umat ada yang merasa keberatan tapi ada pula yang tidak bila “mungkin” merasa agamanya atau nabinya dilecehkan.
    Menurut saya wajar saja, asalkan rasa keberatan itu tidak menimbulkan keresahan di masyarakat dan malah menimbulkan tudingan dari umat yang lain bahwa ada pilih kasih di sini.
    Bagaimanapun keragaman umat beragama jg harus diikuti oleh kerukunan kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *