Bus Trans Sarbagita

September 6th, 2011 by imadewira Leave a reply »

Bulan Agustus 2011 Bus Trans Sarbagita yang sudah ditunggu sekian lama akhirnya terealisasi juga. Diberikan nama Sarbagita yaitu singkatan dari Denpasar – Badung – Gianyar – Tabanan yaitu empat pemerintah tingkat II di Bali Selatan yang selama ini mengalami masalah kemacetan.

Bus Trans Sarbagita ini di gadang-gadang sebagai solusi yang akan memecahkan masalah kemacetan yang melanda daerah Bali Selatan beberapa tahun belakangan ini. Saya sendiri setuju bahwa transportasi umum adalah solusi utama mengatasi kemacetan selama ini.

Tapi sayangnya, realisasi Bus Trans Sarbagita ini sepertinya masih belum maksimal. Terbukti dengan koridor yang baru dibuka cuma menjangkau sebagian kecil kawasan Denpasar. Saat ini yang tersedia baru hanya koridor 2 yaitu rute Batu Bulan – Nusa Dua dan sebaliknya. Memang terlalu dini untuk memberikan penilaian terhadap kinerja Bus Trans Sarbagita ini apalagi memang realisasi ini baru tahap awal. Tapi justru karena masih tahap awal itulah diperlukan masukan dan kritik dari masyarakat.

Saya yakin dan semakin yakin setelah membaca komentar-komentar orang lain di jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook, pada dasarnya masyarakat sangat mendukung dan antusias dengan kehadiran Bus Trans Sarbagita ini.

Memang dari jumlah penumpang mungkin masih sedikit, namun bukan berarti masyarakat tidak mendukung. Sedikitnya jumlah penumpang ini bukan karena masyarakat tidak mau menggunakan Bus Trans Sarbagita, tapi karena mereka tidak bisa memanfaatkannya dengan berbagai kendala.

Kendala utama adalah masalah jalur/rute dan halte Bus Trans Sarbagita yang masih agak sulit dijangkau. Kendaraan umum yang berfungsi sebagai pengumpan ke halte-halte Bus Sarbagita masih sangat minim bahkan tidak ada. Juga angkutan umum pelempar yang akan mengambil penumpang dari halte-halte Bus Trans Sarbagita.

Inilah salah satu penyebab utama minimnya penumpang. Jadi pemerintah harus segera melanjutkan tahap selanjutnya. Bisa dengan memaksimalkan angkutan umum yang sudah ada seperti angkot atau ojek atau dengan segara merealisasikan koridor selanjutnya. Bisa juga dengan menambah jalur baru mungkin Bus yang lebih kecil sehingga bisa menjangkau jalan-jalan yang lebih kecil.

Selain itu mungkin bisa juga disediakan tempat parkir khusus di dekat halte-halte utama untuk menampung kendaraan calon penumpang yang mungkin berangkat dari rumahnya menggunakan kendaraan pribadi. Penyediaan lahan parkir bisa dengan masyarakat atau pihak lain dan mungkin bisa membuka lapangan pekerjaan baru.

Jadi, intinya pemerintah diharapkan bisa segera melanjutkan rencana realisasi Bus Trans Sarbagita, tidak terpengaruh oleh masih minimnya jumlah penumpang.

Foto oleh Anton Muhajir saya ambil dari balebengong.net

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

13 comments

  1. andinoeg says:

    kapan ya bus trans surabaya??
    andinoeg´s last blog post ..Aplikasi iPad Photo Terbaik

  2. Yoga Hadi says:

    Katanya Gianyar..
    tapi saya yang berdomisili di gianyar belum melihat koridor di sekitar gianyar :D

  3. Cahya says:

    Saya rasa promosinya justru kurang Bli. Malah ramenya di media daring, sedangkan media luring nyaris tak terdengar. Ah, mau bagaimana ada yang menggunakan, kalau masyarakat sendiri tidak jelas dengan layanan ini :|.
    Cahya´s last blog post ..Di Tepian Jalan

  4. DV says:

    Wah solusi asik nih.. semacam Trans Jakarta dan Trans Jogja ya… (di solo kayaknya juga ada)…

    Aku liat emang Bali akhir2 ini sering macetnya ya… dulu yg macet cuma Kuta kayaknya, skarang dari arah Negara ke Denpasar atau dari Kuta ke Denpasar juga macet ya Bli?

    Itu pemandangan tiga tahun silam sih…
    DV´s last blog post ..Hidup jujur, hidup tak jujur

  5. Disolo juga ada, namanya Solo Batik Trans :)

  6. Bli Batuan says:

    Memang semua orang ingin ngak bertemu dengan kemacetan pada saat bepergian, apalagi jika berpergian lebih dari satu tujuan dengan tempo waktu yang sedikit, artinya kita harus ngebut dijalan. Disisi lain kami juga berterima kasih kepada Pemprop Bali dengan beroperasinya Bus Trans Sarbagita, sehingga keinginan pemerintah sudah terwujud larena masyarakat bisa terbantu. Yang menjadi pertanyaan kami, kira-kira masyarakat mana yang terbantu? berapa prosentase jika dibandingkan dengan msyarakat pengguna jalan. Apakah bapak dan ibu pemerintah sudah mengadakan suatu penelitian sebelumnya (jawabnya pasti : Sudah !), pada aspek mana saja (jawabnya : Semua aspek !), Aspek pola hidup masyarakat : yang sekarang sudah berubah apa sudah di sesuaikan (jawabnya : belum, he… belum nyampai disana). Nah.. Ini masukan buat bapak&ibu pemerintah, dsb, Pola hidup masyarakat sekarang sudah berubah: 1). Jika bekerja tidak mau hanya bisa bekerja dalam bidang 1 pekerjaan saja. 2). Jika bepergian tidak mau hanya 1 tujuan saja, karena kendala waktu & efisiensi dalam cost. 3).Dan lain sebagainya. Ini semua karena berubahnya tuntutan agar bisa hidup (yang jelas bertambahnya semua tuntutan agar bisa hidup). Kesimpulannya daripada bikin proyek besar yang ngak ada yang kena sasaran jika dibandingkan nilai proyeknya yang cukup besar, mendingan optimalkan penertiban penduduk pendatang yang tidak memiliki skill, yang setiap bulan bertambah (+/-) 1500 orang.

    • imadewira says:

      Penertiban penduduk pendatang memang perlu dilakukan, semoga saja pemerintah bisa lebih maksimal. Tapi bagaimana pun juga, Trans Sarbagita ini wajib direalisasikan tapi dengan syarat bisa direncanakan dengan lebih baik lagi.

  7. bay says:

    menurut saya pengadaan proyek ini bukan untuk mengtasi kemacetan, namun hanya untuk menambah alternatif jenis transprtasi di bali. sebelum menambah jumlah armada bus/minibus, sebaiknya pemda melakukan studi lagi tentang prilaku masyarakat dan nilai ekonomis menggunakan bus trasn dengan kendaraan pribadi. apalagi pengguana bus trans ini cenderung sedikit sedangkan biaya operasional cenderung tetap dan terus bertambah. para ahli dan pembuat kebijakan ini pun belum tentu mau menggunakan bus trans ini.

    solusi untuk mengatasi kemacetan yang sangat mendesak adalah dengan dibangunnya jalan layang di titik-titik kemacetan seperti di baypass nusa dua, jimbara, kuta dan sesetan. juga perlu dibangun jalan layang menuju daerah pemukiman penduduk seperti di jalan kerobokan, legian, jl. imam bonjol dan jl.sesetan.
    bila proyek ini dilaksanakan mungkin juga diperlukan sedikit renovasi pada beberapa landmark seperti patung dewa ruci dan patung ngurah rai, agar tidak kalah pamornya denga keberadaan jalan layang. solusi jalan layang ini menurut saya lebih murah dibandingkan pembuatan jalan bawah tanah dan jembata berbayar tanjung benoa-serangan.

    untuk masalah penduduk
    penertiban administrasi penduduk (pajak penduduk pendatang nasional) kita selesaikan kepaada mekanisme yang sudah ada. namun selaras dengan perkembangan pariwisata, heterogenitas dari jenis pekerja mutlak diperlukan untuk kelancaran bisnis itu sendiri. apalagi mayoritas bisnis yang ada dibali adalah bisnis jasa yang menuntut pelayanan maksimal kepada tamu selama 365 hari bahkan disaat nyepi sekalipun.

    • imadewira says:

      Menurut saya penambahan jalan baik jalan layang atau jalan bawah tanah tidak bagus untuk ke depannya. Paling bagus adalah transportasi umum. Kalau anda bilang sarbagita untuk menambah jenis transportasi di Bali, saya kurang setuju. Karena di daerah seperti Kuta dan Nusa Dua sangat minim transportasi umum dan bisa dikatakan tidak ada transportasi umum. Jadi istilah “menambah” sepertinya kurang tepat. Yang diperlukan saat ini adalah melanjutkan pembukaan koridor2 lainnya serta menambah jumlah trayek dan angkutan pengumpan sehingga bisa mencapai semua wilayah.

Leave a Reply

CommentLuv badge