Bersikap Kepada Pengemis

January 17th, 2012 by imadewira Leave a reply »

Kejadian ini saya lihat kemarin, ketika saya berhenti di traffic light persimpangan jalan Sunset Road dan jalan Imam Bonjol. Belakangan ini disana memang semakin banyak pengemis, entah apa penyebabnya. Yang lebih menyedihkan sebagian besar dari pengemis itu adalah anak kecil, mungkin umurnya sekitar 5 atau 6 tahun. Ditambah lagi pengemis kecil itu menggendong anak umur dibawah 1 tahun yang tertidur pulas.

Saya bahkan pernah melihat dalam kondisi hujan gerimis, para pengemis cilik itu masih mengemis disana dan menggendong bayi. Benar-benar kondisi yang membuat saya kasihan. Saya akui mereka telah berhasil membuat saya kasihan dan tujuan awal mereka telah berhasil dilaksanakan. Syukurlah rasa kasihan itu tidak sampai membuat saya memberikan uang atau sesuatu kepada mereka.

Saya telah menetapkan diri dalam hati saya tidak memberikan apa-apa lagi kepada pengemis. Saya setuju bahwa memberikan sesuatu kepada pengemis adalah tindakan yang kurang pas. Itu sama saja dengan mengajarkan yang tidak baik bagi mereka, mengajarkan pengemis untuk tetap menjadi pengemis. Tapi rasa kasihan tetap ada dalam hati saya. Justru karena kasihanlah saya tidak mau memberikan apa-apa kepada pengemis itu.

Nah, kejadian yang saya lihat kemarin itu adalah seorang Bapak pengendara motor membentak seorang pengemis cilik, entah apa yang dilakukan pengemis itu sehingga Bapak itu membentaknya. Saya cukup kaget melihat ada orang yang demikian tega membentak pengemis cilik itu. Mungkin Bapak itu punya alasan atau pengalaman buruk dengan pengemis. Dan mungkin pengemis telah membuatnya jengkel.

Tapi melihat kejadian itu saya merasa benar-benar kasihan, anak sekecil itu dibentak orang lain di tempat umum. Namun saya tidak bisa berbuat apa-apa, saya hanya diam melihat kejadian yang terjadi sekilas di depan saya itu. Saya juga tidak bisa berkomentar lebih jauh tentang apakah Bapak itu salah atau tidak, apakah pengemis yang dibentak itu patut dibela atau tidak, saya tidak tahu. Tapi yang jelas, saya kasihan kepada pengemis itu.

Rasa kasihan yang mendalam kepada pengemis khususnya yang masih anak-anak apalagi balita dan bayi yang diajak mengemis saya rasakan semenjak saya memiliki anak. Entahlah, begitu melihat pengemis cilik itu apalagi yang seumuran anak saya, saya langsung teringat anak saya dirumah.

Saya selalu bersyukur bahwa saya dan anak saya diberikan nasib yang lebih baik dari pengemis itu. Maksud saya nasib yang lebih baik dalam pandangan saya, karena sebenarnya belum tentu pengemis itu setuju bahwa nasibnya dikatakan lebih buruk dari saya. Juga apa yang akan terjadi besok tidak pernah ada yang tahu. Jadi saya bersyukur terhadap apa yang sudah saya alami dan capai sampai detik ini.

Sebenarnya saya tidak ingin egois, rasa ingin membantu tentu saja ada. Tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu pengemis itu. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan untuk membantu pengemis itu adalah dengan diam. Diam? Ya, diam. Saya tidak akan memberi apa-apa kepada pengemis itu, dengan cara itu saya berharap pengemis itu akan berhenti melakukan pekerjaan mengemis dan mencari sesuatu hal lain yang bisa dijadikan sumber pencarian.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

4 comments

  1. Cahya says:

    Ini yang menjadi buat simalakama Bli, di saat masyarakat kita memang menyarankan tidak memberikan bantuan pada kaum gepeng – atau lebih tepatnya disarankan untuk menyalurkan bantuan pada lembaga kemanusiaan langsung. Justru kadang kita tidak tega dengan pemandangan itu.

    Padahal, yang membuat mereka ada dari banyak faktor ya kita juga yang sering memberikan uang begitu saja.

    Kalau saya mungkin cukup menolak mesti tidak tega sebenarnya. Tapi jika mereka pergi ke lembaga sosial, mereka bisa mendapatkan bantuan yang sesungguhnya mereka perlukan.
    Cahya´s last blog post ..Little Globes of Natural Happiness

  2. DV says:

    Tindakan terpuji memang diam, Bli. Semoga mereka bisa mendapatkan perbaikan nasib dan mental untuknya bekerja lebih baik lagi
    DV´s last blog post ..Maling tetaplah maling

  3. matrixs says:

    Terkadang saya juga begitu, mau ngasih ke pengemis yang di jalanan lihat-lihat orangnya, kadang orang yang cacat tidak bisa kerja berilah sedikit rupiah dengan iklas, tapi yang jadi masalah memang anak-anak yang di jadikan ajang mencari belas kasihan….demikian juga kalau ada pengamen …. begitu ngasih agak banyak besok pasti ada lagi-ada lagi dibuat jadi langganan karena dikasih tahu ke teman pengamen tu… rumah itu agak baik datang aja….setelah tahu hasil ngamen…kadang dibuat untuk minum, hura-hura, saya sungkan ngasih….ada lagi minta sumbangan berdalih pondok pesantren mana…gituloh,,,,jangan dipercaya itu cuma orang kerjanya mencari sumbangan nanti dibagi-bagi nga nyampe..ke pondok pesantren. kalau ngasih sumbangan langsung di daerah masing-masing yang jelas penggunaan…..mungkin begitu aja pandangan dari saya
    matrixs´s last blog post ..7 Ponsel Pilihan untuk Putar Musik

Leave a Reply

CommentLuv badge