Banjar Facebook

banjar-facebook

Beberapa hari belakangan ini, timeline Facebook saya dipenuhi dengan informasi soal penanaman pohon di pisang di Jalan Raya Canggu yang merupakan jalan utama di depan gang rumah saya. Ini berawal dari kondisi jalan yang rusak belakangan ini akibat proses pemasangan pipa air yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Saya kemudian iseng memfoto salah satu titik kerusakan jalan yang cukup parah lalu saya upload ke Facebook dan tag beberapa teman yang tinggal di se-banjar dengan saya.

Teman-teman pun merespon dan responnya cukup banyak, tidak biasanya foto Facebook saya menerima komen sebanyak itu. Bahkan tidak hanya teman se-banjar saja yang komen, beberapa teman yang pernah lewat dan merasakan kerusakan jalan itu juga ikut komentar. Hingga akhirnya ada komentar yang menanyakan, lalu kapan masyarakat akan benar-benar turun ke jalan.

Keesokan harinya, sore-sore ternyata benar ada sekitar 6 orang anak muda yang turun ke jalan, mereka membawa 3 batang pohon pisang. Saya yang melihat sudah ada yang memulai aksi pun langsung secara spontan ikut. Berawal dari 3 pohon pisang itu, aksi pun meluas di hampir seluruh wilayah Banjar. Kepala Lingkungan, Lurah bahkan Camat pun langsung datang dan melihat langsung warga melakukan aksi. Uniknya, pengguna jalan yang menjadi terkena macet malah mendukung aksi yang kami lakukan itu.

Semua aksi penanaman pohon pisang ini pun kami foto, unggah ke Facebook dan berita menyebar dengan cepat. Salah satu akun Facebook yang secara khusus terlibat dalam komentar-komentar Facebook adalah akun Bapak Made Sudiana yang merupakan Wakil Bupati Badung. Akun tersebut dengan sabar menanggapi/menjelaskan/memantau semua perkembangan informasi.

Keesokan harinya, bahkan sampai Wakil Gubernur Bali langsung turun ke lokasi tempat kami menanam pohon pisang, ditemani Wabup Badung, Camat dan yang lainnya. Sementara itu teman-teman khususnya warga di banjar kami terus berdiskusi di Facebook sambil memantau perkembangan. Komentar-komentar terus mengalir, ada yang serius, ada yang bercanda, ada kritis, menyindir bahkan memprotes langsung pihak yang bertanggungjawab atas kerusakan jalan itu. Hingga saya menulis ini, komentar-komentar diskusi masih mengalir karena masalah belum selesai dan situasi terus berkembang.

Saya jadi berpikir, ternyata berawal dari sebuah foto di Facebook, masyarakat rupanya bisa bergerak, hingga berhasil menarik perhatian pejabat seperti Wakil Gubernur. Mungkin inilah salah satu sisi positif jejaring sosial dimana pertukaran informasi dan diskusi menjadi lebih cepat dan lancar.

Menariknya lagi, obrolan/komentar di Facebook seputar jalan rusak hingga aksi penanaman pohon pisang itu tidak berupa kalimat-kalimat formal melainkan seperti obrolan di balai banjar. Saya jadi merasa bahwa balai banjar kami telah pindah ke Facebook, dimana warga bisa mebligbagan menyampaikan keluhan/protes/ide/solusi.

Tapi mungkin satu hal yang perlu diingat, yaitu apapun yang kita lakukan di jejaring sosial harus tetap dijaga batasnya, jangan sampai nanti malah merugikan diri kita dan muncul masalah lain, apalagi sampai ke masalah hukum, bisa repot nantinya.

 Catatan :

Banjar adalah sebuah organisasi sosial/adat yang berada di bawah sebuah Desa Adat di Bali.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *