10 Tahun Menjadi PNS

Tidak terasa saya telah 10 tahun menjadi seorang abdi negara, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali yang merupakan perguruan tinggi di bawah Kementerian Pariwisata. Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 1 April 2009 saya pertama kali ngantor bekerja di STP Bali, rasanya baru beberapa waktu yang lalu.

Dalam rangka 10 tahun menjadi PNS ini, negara memberikan penghargaan tanda kehormatan Satyalencana Karya Satya X tahun, yaitu penghargaan bagi seorang PNS yang telah mengabdi selama 10 tahun. Penyematan tanda kehormatan ini dilaksanakan di sela Upacara Bendera peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di kantor Kementerian Pariwisata di Jakarta.

Sebagai seorang PNS, saya tentu berterima kasih kepada negara karena telah diberikan kesempatan mengabdi sekaligus diberikan kesejahteraan. Walaupun menjadi PNS bukanlah sebuah cita-cita awal saya, tetapi menjadi PNS ternyata sebuah pekerjaan yang cukup cocok bagi saya, terbukti dengan saya bisa bertahan sampai dengan saat ini dan juga merasa cukup nyaman.

Hari ini, saya akan mengikuti kegiatan upacara bendera memperingati Proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia di halaman parkir Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata RI. Ini pertama kalinya saya mengikuti upacara bendera disini sekaligus menerima penghargaan Satyalencana Karya Satya X Tahun. Semoga saja semua kegiatan berjalan dengan lancar.

Kami berangkat ke Jakarta kemarin, hari Jumat tanggal 16 Agustus 2019 pagi bersama 21 orang lainnya yang juga akan menerima penghargaan, ada yang 10 tahun, 20 tahun dan ada yang 30 tahun. Jumat sore kami telah mengikuti gladi bersih untuk melihat posisi dimana akan berdiri. Upacara bendera akan dilaksanakan pagi ini tanggal 17 Agustus 2019 pukul 07.00 WIB.

Di akhir tulisan ini, sekali lagi saya berterima kasih kepada negara Republik Indonesia atas segala kesempatan yang telah diberikan. Tidak lupa saya mengucapkan syukur kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunianya sehingga saya bisa melaksanakan tugas dengan baik.

Sakit Telinga Bindeng Satu Bulan Lebih

Beberapa waktu yang lalu saya mengalami sakit telinga bindeng selama lebih dari satu bulan. Cerita tentang sakit telinga bindeng saya ini berawal sekitar pertengahan bulan Mei yang lalu. Berawal dari sakit flu biasa yang biasanya mereda dalam beberapa hari saja. Awal flu ini saya sempat merasa meriang tapi segera reda setelah saya minum obat. Beberapa hari kemudian saya harus berangkat ke Makassar karena mendapatkan tugas dinas di kantor. Memang ini pertama kalinya saya tugas luar dalam kondisi flu.

Selama 5 hari di Makassar saya belum sakit telinga bindeng, hanya saja flu saya disana semakin parah. Saya merasa ini gejala flu yang paling parah yang saya rasakan, ingus saya sangat banyak dan juga dahak yang sangat banyak juga, untungnya kondisi fisik masih baik sehingga semua kegiatan bisa saya ikuti dengan baik hingga hari terakhir. Sepulang dari Makassar saya kembali ke Bali dalam kondisi masih flu berat.

Dalam perjalanan pulang dari Makassar ke Bali inilah pertama kali saya merasakan sakit telinga bindeng, sakitnya benar-benar terasa sakit di telinga. Telinga saya tidak hanya mampet bindeng biasa seperti naik pesawat sebelum-sebelumnya, kali ini telinga saya terasa mampet sampai sakit, terutama selama sekian menit menjelang landing. Untung saja tidak sampai terjadi apa-apa dengan genderang telinga saya.

Setelah landing, bindeng mampet di telinga saya masih terasa, tetapi tidak terasa sakit seperti saat pesawat mulai turun dari ketinggian sebelumnya. Nah, masalahnya mampet di telinga saya ini tidak hilang juga sampai berhar-hari, padahal biasanya tidak sampai satu jam setelah keluar dari pesawat telinga saya sudah plong kembali. Sekitar 5 hari kemudian belum ada tanda-tanda membaik di telinga saya, khususnya yang kanan. Saya memutuskan periksa ke dokter THT.

Setelah diperiksa oleh dokter THT, dikatakan kondisi telinga saya di luar genderang telinga bagus, masalahnya ada pada saluran dari telinga ke hidung, ada banyak lendir ingus dan juga bengkak sehingga saluran ini mampet. Saya kemudian diberi obat flu, disarankan jangan mandi malam, minum air hangat, jangan pakai AC, intinya kondisi flu harus sembuh dan kondisi harus fit.

Beberapa hari kemudian kondisi saya mendingan tetapi telinga masih mampet juga, masih bindeng. Karena sekitar sebulan kemudian saya akan ada tugas luar lagi ke Jakarta, saya sempat khawatir apakah bisa sembuh sebelum itu. Seminggu kemudian saya mencoba ke dokter THT lainnya, hasilnya sama seperti penjelasan dokter sebelumnya. Saya dikasi obat dan saran yang sama. Sekitar 2 minggu kemudian flu saya belum hilang juga, begitu juga telinga saya masih bindeng, hingga seminggu sebelum berangkat saya memutuskan ke dokter THT lainnya lagi. Hasilnya? Sama juga, dikasi obat lagi dan diyakinkan bahwa tidak apa-apa berangkat minggu depan.

Tiba saatnya saya tugas dinas lagi ke Jakarta, kondisi telinga masih agak mampet, saat di pesawat khususnya saat pesawat mulai turun, telinga saya sakit lagi, benar-benar terasa sakit. Karena sudah terlanjur mau tidak mau kegiatan selama di Jakarta harus saya ikuti. Syukurnya dalam kondisi telinga mampet saya masih bisa mengikuti semua kegiatan. Hingga kembali ke Bali saat pesawat mau turun telinga saya sakit lagi.

Saat sudah di Bali, saya kembali ke dokter THT yang ketiga sebelumnya, hasilnya sama, telinga saya masih bengkak. Saya mulai merasa lelah dengan sakit telinga bindeng ini, sudah hampir 2 bulan rasanya berkutat dengan sakit telinga. Akhirnya terakhir saya kembali ke dokter yang kedua sehingga total sudah 5 kali saya ke dokter THT dengan 3 dokter. Ke dokter terakhir ini hasilnya juga sama, hanya diberi obat, jalan satu-satunya ya harus sabar menunggu, kurangi pakai AC, coba hirup uap air hangat dan seterusnya.

Yah mau gimana lagi, saya kembali bersabar dan ikuti petunjuk dokter. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian mulai ada tanda-tanda membaik. Sampai sekitar 2 bulan setelah sakit telinga bindeng akhirnya benar-benar hilang. Untuk pertama kalinya setelah 2 bulan telinga saya kembali normal, rasanya luar biasa senang, saya bahagia dan bersyukur sekali ketika pendengaran saya kembali normal.

Kesimpulan dari pengalaman sakit telinga bindeng yang saya alami ini adalah:

  1. Usahakan bepergian naik pesawat dalam kondisi fit, khususnya tidak dalam kondisi flu.
  2. Jika mengalami telinga bindeng berhari-hari seperti yang saya alami, usahakan jangan naik pesawat dulu.
  3. Periksa ke dokter dan ikuti semua petunjuk dokter.
  4. Sabar, ini tidak kalah penting, sakit telinga bindeng ini tidak bisa sembuh seketika, penyembuhannya secara bertahap, bahkan setelah telinga saya sembuh itu pun kadang beberapa kali mampet lagi tapi segera plong lagi setelahnya.

Makna Hari Sugihan Jawa dan Bali

Makna hari Sugihan baik itu Sugihan Jawa maupun Sugihan Bali sebaiknya kita ketahui. Hari Sugihan merupakan rangkaian dalam hari Raya Galungan dan Kuningan. Hari Sugihan Jawa jatuh pada hari Kamis wuku Sungsang, yaitu 6 hari sebelum hari raya Galungan yang dirayakan pada hari Rabu wuku Dungulan. Sedangkan hari Sugihan Bali adalah sehari setelah Sugihan Jawa yaitu hari Jumat, 5 hari sebelum Galungan.

Hari Sugihan Jawa dan Bali memiliki makna yang sangat penting dan dirayakan oleh umat Hindu khususnya di Bali dalam rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan. Umat Hindu di Bali biasanya sudah mulai sibuk dan menghaturkan banten / sesajen pada hari Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Bahkan bisa dikatakan pada hari Sugihan ini suasana Galungan sudah benar-benar terasa.

Makna hari Sugihan Jawa adalah pembersihan dan penyucian Bhuana Agung (makrokosmos), lingkungan dan alam semesta. Sugihan berasal dari kata “sugi” yang berarti membersihkan. Sedangkan Jawa diartikan jaba (luar) sehingga Sugihan Jawa memiliki makna pembersihan di luar diri (Bhuana Agung). Umat Hindu di Bali biasanya melaksanakn ritual menghaturkan banten dan sesajen Sugihan sesuai dengan adat dan tradisi di daerah masing-masing serta melakukan persembahyangan mulai dari sanggah / merajan di rumah dan tempat suci lainnya.

Sedangkan makna Sugihan Bali adalah pembersihan / penyucian diri yaitu Bhuana Alit (mikrokosmos), hati dan pikiran sebelum menyambut hari raya Galungan dirayakan sebagai hari Kemenangan Dharma melawan Adharma. Pada hari Sugihan Bali ini umat Hindu di Bali juga melakukan ritual sesuai tradisi di daerah masing-masing, memohon penglukatan dan pembersihan diri.

Itulah makna hari Sugihan Jawa dan Bali yang dilaksanakan dalam rangkaian menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pelaksanaan oleh masing-masing umat Hindu bisa saja terlihat berbeda namun memiliki makna yang sama. Semoga bermanfaat, jika ada kekeliruan mohon dikoreksi pada kolom komentar.

Mengikuti Outbound STP Bali 2019

Kegiatan Outbound di STP Bali adalah kegiatan yang rutin tiap tahun dilaksanakan beberapa tahun belakangan ini. Tapi saya sendiri agak jarang ikut, hehe. Saya pernah ikut sekali saja waktu outbound ke kebun raya Bedugul, itupun bawa kendaraan sendiri. Sementara outbound ke Jawa Timur naik bus saya tidak ikut, begitu pula ke Yogyakarta naik pesawat tahun lalu juga saya tidak ikut.

Outbound STP Bali tahun 2019 ini ke Jakarta dan Bogor saya memutuskan untuk ikut. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah acara ke Pura / Parahyangan Gunung Salak, karena saya belum pernah tangkil kesana, saya pikir ini kesempatan bagus. Jadi ketika pendaftaran dibuka saya langsung mendaftar. Acara Outbound ini direncanakan selama 3 hari 2 malam. Dibagi menjadi 2 gelombang, saya ikut gelombang pertama yaitu tanggal 23-25 Juni 2019.

Yang agak mengganjal sebelum berangkat ini adalah kondisi kesehatan saya. Sudah sejak sebulan lebih saya flu, batuk sampai telinga bindeng. Saya bahkan sudah flu sebelum tugas ke Makassar 5 hari 4 malam sebulan yang lalu. Pulang dari Makassar masih flu juga dan batuk berdahak. Yang membuat tidak nyaman adalah telinga saya bindeng, mampet. Bahkan dalam perjalanan pulang dari Makassar itu, di pesawat telinga saya sempat sampai terasa sakit sekali karena mampet, sampai terasa pusing. Itu juga yang membuat saya khawatir kalau mau naik pesawat lagi.

Saya lalu ke dokter THT, dikasi obat dan agak mendingan tapi belum hilang juga flu dan bindeng di telinga. Lalu coba ke dokter THT lain, dikasi obat lagi, sempat agak membaik tapi belum sembuh juga, hingga sekitar seminggu sebelum berangkat saya coba lagi ke dokter THT yang lain lagi, dikasi obat lagi dan diyakinkan akan sembuh dan bisa naik pesawat. Semua saya ikuti. Hingga akhirnya beberapa hari sebelum berangkat kondisi saya terus membaik walau belum benar-benar hilang flu. Tapi setidaknya telinga bindeng sudah agak membaik namun masih terasa aneh, rasanya kadang seperti abis mendengar suara ledakan yang terngiang di telinga, agak susah menjelaskannya.

Hari minggu tanggal 23 waktu berangkat pun tiba, flu saya sudah hampir hilang, telinga juga tidak mampet tapi rasanya belum benar-benar plong, masih seperti akan mampet. Saya pun berangkat ke Jakarta bersama rombongan kloter 1 gelombang 1. Di pesawat telinga saya mulai mampet lagi, tapi saya tetap tenang karena tidak sakit. Tapi menjelang mendarat telinga kanan yang mampet rasanya mulai sakit, saya mulai agak resah, untung saja kami segera mendarat, hanya sekitar 10 menit saya merasa sakit.

Dari Bandara kami naik bus dan diajak wisata ke Kota Tua, telinga kanan saya masih mampet. Saya tetap bisa enjoy karena tidak sakit walau tetap rasanya aneh. Sekitar 1 jam di Kota Tua, kami diajak ke tempat makan. Menunya lumayan enak. Selesai makan kami menuju ke TMII tapi agak lama di perjalanan karena macet. Tiba di TMII pun tidak banyak yang bisa kami lakukan karena sangat padat sekali, kami hanya bisa diam di bus yang terjebak macet di dalam TMII. Hingga waktu mulai sore dan kami langsung keluar dari TMII menuju ke tempat makan malam. Menu makan malam juga enak. Selesai makan malam kami langsung ke hotel di Ibis Style Mangga Dua.

Hari kedua Outbound STP Bali 2019 kami menuju ke Pura Gunung Salak. Dari hotel kami berangkat menggunakan bus sekitar pukul 08.00 WIB, sebelumnya kami sudah sarapan di hotel. Kami langsung memakai pakaian sembahyang dengan perkiraan waktu tempuh sekitar 2 jam. Perjalanan ke Bogor sangat lancar dan kami tiba sedikit lebih awal. Acara yang awalnya direncanakan Darma Wecana ditukar dengan sembahyang dulu, baru kemudian Darma Wecana yang dibawakan oleh Bapak Wayan Suastika. Kami sempat berfoto bersama mengabadikan momen berharga itu.

Selesai sembahyang, peserta Outbound langsung berganti pakaian dengan seragam outbound yang sudah dibagikan panitia sebelum berangkat ke Jakarta. Kami lalu menikmati makan siang dulu di wantilan pura dan istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor, istana presiden. Perjalanan kembali ke kebun raya Bogor juga lumayan lancar. Kami lalu berkeliling di kebun raya Bogor dan tidak lupa berfoto bersama. Sekitar 1,5 jam disana, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta, langsung menuju tempat makan malam.

Selesai makan malam kami kembali ke hotel untuk beristirahat.
Kondisi fisik saya sendiri lumayan fit, telinga sempat beberapa kali agak mampet di perjalanan tapi tidak terlalu mengganggu, saya bersyukur akhirnya bisa tangkil ke Parahyangan Agung Jagadkarta Gunung Salak. Oya kita tidak menyebut tempat suci di Gunung Salak itu dengan Pura, tetapi Parahyangan yang dalam bahasa Sunda berarti tempat suci.

Hari ketiga, hari terakhir kegiatan Outbound STP Bali 2019, pukul 08.30 waktu setempat kami check out dari hotel. Tentunya sebelumnya sarapan dulu di hotel. Dari hotel kami langsung diajak Ancol. Perjalanan ke Ancol tidak lama karena jaraknya sangat dekat dari hotel. Di Ancol kami sempat berfoto bersama lagi sebelum peserta Outbound diberikan acara bebas. Ada yang Sea World, ada yang ke Dufan dan lainnya, saya sendiri hanya jalan ke Pasar Seni dan berdiam di dekat parkir bus bersama beberapa teman lainnya.

Pukul 11 waktu Jakarta kami berkumpul dan diajak makan siang, tempatnya masih di wilayah Ancol. Selesai makan siang, kami langsung menuju ITC Mangga Dua untuk belanja oleh-oleh. Di Mangga Dua cukup lama yaitu sampai pukul 15.30. Dari sana kami langsung diajak makan malam lebih awal yang lokasinya tidak jauh dari bandara. Selesai makan kami menuju bandara dan tiba pukul 17.30 dimana jadwal boarding kami yang kloter pertama adalah pukul 18.50, jadi waktunya masih banyak. Dalam perjalanan pulang di pesawat, telinga saya mampet dan sakit lagi, seperti dalam perjalanan ke Jakarta yaitu sekitar 15 menit sebelum mendarat.

Review Kurikulum dan Rapat Pleno SBMPTNP 2019 di Makassar

Perjalanan dinas saya kali ini adalah ke Makassar. Ada dua agenda kegiatan yang saya ikuti disini yaitu yang pertama Workshop Review Kurikulum Program Studi Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata Kementerian Pariwisata yang dilaksanakan tanggal 24-25 Mei 2019, dan yang kedua Rapat Pleno Kelulusan Tahap 2 SBMPTNP 2019 yang dijadwalkan tanggal 26-27 Mei 2019. Kami berangkat tanggal 23 Mei 2019 dan rencana kembali tanggal 27 Mei 2019, jadi total 5 hari 4 malam.

Untuk acara Review Kurikulum sebenarnya saya bukan mewakili salah satu prodi, tapi mewakili bagian akademik. Saya ditugaskan ikut terkait dengan administrasi hasil review kurikulum nantinya. Administrasi disini maksudnya bagaimana matakuliah nanti secara teknis dituangkan ke sistem baik ke sistem informasi akademik (SIAMIK) dan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).

Untuk acara Rapat Pleno Kelulusan Tahap 2 SBMPTNP 2019 merupakan salah satu agenda penting SBMPTNP 2019. Rapat Pleno Kelulusan Tahap 1 sebelumnya sudah dilaksanakan di Bali pada tanggal 16-18 Mei 2019 di Hotel Sovereign, Tuban, Bali. Seperti diketahui, SBMPTNP 2019 ini ada sedikit perbedaan dengan sebelumnya dimana kelulusan dilaksanakan 2 tahap. Tahap pertama peserta SBMPTNP 2019 mengikuti ujian Bahasa Inggris, Psikotes, Wawancara. Hasil ujian tersebut akan diluluskan dalam kelulusan Tahap 1. Peserta yang lulus Tahap 1 diwajibkan melakukan Pemeriksaan Kesehatan (tempatnya bebas) dengan ketetentuan yang sudah dituangkan dalam Surat Pengantar dari panitia. Hasil pemeriksaan kesehatan itu akan menjadi pertimbangan dalam kelulusan tahap 2. Nah, Rapat Pleno Kelulusan Tahap 2 ini dilaksakan di Makassar.

Ngomongin kondisi fisik, sebenarnya saat berangkat saya kurang fit, beberapa hari sebelumnya sempat meriang karena flu berat. Bahkan hari senin sebelum berangkat saya terus pakai jaket. Malamnya saat tidur, 2 malam saya pakai jaket dan celana panjang, diluar kebiasaan dimana saya biasanya keringetan dan harus pakai AC. Saat berangkat sudah agak mendingan tapi masih flu berat. Sampai menjelang pulang pun masih flu, jadi harus bolak-balik ke toilet karena hidung mampet oleh ingus. Syukurlah semua acara rapat bisa saya ikuti dengan baik. Selera makan juga masih bagus, karena di seperti biasa jamuan di Poltekpar Makassar selalu mantap.

Perjalanan saya pulang ke Bali cukup lancar, hanya saja karena masih flu, telinga saya mampet di pesawat sampai terasa sakit. Sakitnya benar-benar terasa dan saya agak resah, sakitnya terasa saat pesawat mau mendarat, mulai sekitar 15 menit sebelum mendarat. Saya pun mendarat dengan selamat, sakit di telinga sudah hilang tapi telinga saya masih mampet dan saya masih flu.